ORINEWS.id – Gerakan Perlawanan Islam, Hamas, mengeluarkan peringatan bahwa lebih dari satu juta penduduk Kota Gaza menghadapi ancaman pembersihan etnis dan pengungsian paksa di tengah pemboman Israel yang berlangsung tanpa henti.
Dalam pernyataannya pada Sabtu, 13 September 2025, Hamas menyebut tingkat kebrutalan yang dilakukan Israel telah melampaui praktik Nazi. “Israel mengebom menara hunian, sekolah, dan tempat perlindungan dengan keganasan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” demikian pernyataan Hamas.
Hamas menyerukan solidaritas global untuk menghentikan genosida yang disebut sedang berlangsung di Gaza. Gerakan itu mendesak masyarakat internasional, khususnya negara-negara Arab dan Islam, agar segera bertindak menegakkan hukum humaniter. Hamas juga menuding Amerika Serikat memberikan perlindungan politik tanpa syarat kepada Israel, sehingga para pemimpin Israel terhindar dari pertanggungjawaban hukum.
Lebih dari 200 Ribu Korban
Pernyataan ini muncul setelah mantan Kepala Staf militer Israel, Herzi Halevi, mengakui lebih dari 200 ribu warga Palestina tewas atau terluka di Gaza. Ia menambahkan, sepanjang operasi militer, penasihat hukum tidak pernah membatasi tindakannya.
Data terbaru dari rumah sakit di Gaza melaporkan 47 korban jiwa dan 205 luka-luka dalam 24 jam terakhir. Puluhan korban lain masih terperangkap di bawah reruntuhan akibat serangan beruntun yang menyasar permukiman padat. Total korban tewas sejak 7 Oktober 2023 tercatat mencapai 64.803 orang, sementara 164.264 lainnya luka-luka.
Selain serangan udara, kelaparan juga menjadi penyebab kematian. Hamas menuduh Israel menjadikan bantuan kemanusiaan sebagai senjata perang. Lebih dari 420 warga Palestina, termasuk 145 anak-anak, meninggal akibat kelaparan. Sebanyak 2.484 warga Palestina lain tewas dan lebih dari 18 ribu luka-luka ketika berusaha mendapatkan bantuan.
Kehancuran Infrastruktur
Kehancuran di Gaza semakin meluas. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan 92 persen bangunan tempat tinggal di Gaza telah rusak atau hancur. Sejak awal Agustus 2025, lebih dari 1.000 bangunan di Kota Gaza dihancurkan.
Israel juga dilaporkan membombardir 181 pusat penampungan dan pengungsian. Serangan terbaru menyasar lembaga pendidikan, termasuk Sekolah Al-Zaytoun yang menewaskan 22 orang, di antaranya 13 anak-anak dan enam perempuan. Target lain adalah Sekolah Kfar Qasim di kamp pengungsi al-Shati dan Sekolah Al-Farabi di dekat Stadion al-Yarmouk. []

































