ORINEWS.id – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dijadwalkan mengadakan sesi darurat di New York untuk membahas serangan udara Israel yang menargetkan pejabat Hamas di ibu kota Qatar, Doha. Pertemuan itu akan digelar pada Rabu, 10 September 2025, pukul 22.00 waktu al-Quds atau 19.00 GMT.
Sesi darurat ini diminta oleh Pakistan dan Aljazair. Misi Korea Selatan, yang memegang jabatan presiden bergilir Dewan Keamanan untuk September, mengonfirmasi bahwa pertemuan tersebut akan berfokus pada situasi di Timur Tengah, dengan perhatian khusus pada serangan Israel di Qatar.
Permintaan Pakistan dan Aljazair mencerminkan meningkatnya kekhawatiran negara-negara mayoritas Muslim dan negara berkembang atas pola agresi Israel di kawasan tersebut. Keduanya menekankan pentingnya akuntabilitas internasional terhadap pelanggaran Israel atas kedaulatan Qatar.
Hamas Kecam “Upaya Pembunuhan”
Gerakan Hamas mengecam keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai “upaya pembunuhan berbahaya” terhadap delegasi negosiasi mereka di Doha.
“Upaya berbahaya oleh pendudukan Zionis untuk membunuh delegasi negosiasi Hamas di Doha merupakan kejahatan keji, agresi nyata, dan pelanggaran berat terhadap norma serta hukum internasional,” bunyi pernyataan resmi Hamas, Selasa, 9 September 2025.
Hamas menilai serangan itu bukan hanya ditujukan kepada delegasinya, tetapi juga merupakan serangan terhadap Qatar. Negara Teluk itu, bersama Mesir, disebut memainkan peran penting sebagai mediator dalam upaya gencatan senjata dan pertukaran tahanan.
Meski para pemimpin Hamas yang menjadi target selamat, sejumlah anggota tim dan staf keamanan tewas. Mereka yang gugur di antaranya Jihad Lubad, direktur kantor pemimpin senior Hamas Khalil al-Hayya; putra al-Hayya, Hammam; Abdullah Abdel Wahed; Mo’men Hassouna; Ahmad al-Mamlouk; serta seorang petugas keamanan Qatar, Badr Saad al-Humaidi.
Tuduhan Terhadap Israel dan AS
Hamas menuding serangan tersebut berkaitan langsung dengan negosiasi yang tengah berlangsung.
“Menargetkan delegasi negosiasi, tepat saat mereka membahas proposal terbaru Presiden AS Donald Trump, membuktikan bahwa Netanyahu dan pemerintahannya tidak menginginkan kesepakatan apa pun. Mereka sengaja menyabotase setiap peluang perdamaian,” kata Hamas.
Hamas juga menuduh Amerika Serikat terlibat, dengan alasan Washington terus memberikan dukungan politik dan militer bagi Israel.
Laporan Koordinasi Israel-AS
Media Israel turut melaporkan adanya koordinasi dengan Amerika Serikat dalam operasi militer tersebut. Channel 13 mengutip seorang pejabat senior Israel yang menyebut serangan di Doha memang direncanakan bersama Washington.
Channel 14 menambahkan, koordinasi itu mencakup dua pertemuan penting dalam beberapa hari terakhir. Pertemuan pertama melibatkan Kepala Komando Pusat AS, Jenderal Brad Cooper, dengan Kepala Staf Israel, Eyal Zamir. Keduanya dikabarkan menjalin komunikasi harian mengenai rencana operasi.
Pertemuan kedua terjadi dalam 24 jam terakhir antara Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer, dan utusan AS, Steve Witkoff, yang semakin menegaskan keterlibatan tingkat tinggi kedua sekutu itu. []


































