TERBARU

InternasionalNews

Israel Klaim Kuasai 40 Persen Kota Gaza, Warga Tolak Mengungsi, Tetap Bertahan di Reruntuhan

ORINEWS.id – Militer Israel mengklaim telah menguasai 40 persen wilayah Kota Gaza di tengah serangan udara dan darat yang memaksa ribuan warga Palestina meninggalkan rumah mereka. Namun, ribuan lainnya menolak perintah evakuasi dan memilih tetap tinggal di reruntuhan.

Otoritas kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 53 orang tewas akibat serangan Israel pada Kamis, 4 September 2025. Sebagian besar korban berada di Kota Gaza, tempat pasukan Israel terus maju dari pinggiran menuju pusat kota.

“Kami terus merusak infrastruktur Hamas. Hari ini kami menguasai 40 persen wilayah Kota Gaza,” kata juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, dalam konferensi pers, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (6/9/2025).

Ia menyebutkan pasukan telah bergerak di permukiman Zeitoun dan Sheikh Radwan. “Operasi ini akan terus meluas dan intensif dalam beberapa hari mendatang.”

“Kami akan terus mengejar Hamas di mana-mana,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa misi hanya akan berakhir ketika seluruh sandera Israel dikembalikan dan kekuasaan Hamas dihentikan.

Defrin juga membenarkan laporan bahwa Kepala Staf Angkatan Darat Eyal Zamir telah memperingatkan kabinet tentang kemungkinan diberlakukannya aturan militer di Gaza bila tidak ada rencana darurat. Beberapa anggota sayap kanan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendorong agar aturan militer diterapkan dan permukiman baru dibangun, meski opsi itu sejauh ini ditolak Netanyahu.

Baca Juga
Presiden Prabowo Dapat Rapor Hijau Pemberantasan Korupsi

Israel memulai serangan besar-besaran di Kota Gaza sejak 10 Agustus lalu. Netanyahu menyebut operasi itu bagian dari rencana untuk mengalahkan Hamas, yang menjadi basis utama pertempuran pada fase awal perang.

Warga Bertahan Meski Dibombardir

Serangan intensif menimbulkan kritik internasional terkait krisis kemanusiaan. Warga sipil yang bertahan di Kota Gaza menolak meninggalkan rumah meski nyawa mereka terancam.

“Kali ini, saya tidak akan meninggalkan rumah saya. Saya ingin mati di sini. Tidak masalah apakah kita pindah atau tetap tinggal. Puluhan ribu orang yang meninggalkan rumah mereka juga dibunuh oleh Israel, jadi untuk apa repot-repot?” kata Um Nader, seorang ibu dari lima anak, kepada Reuters melalui pesan teks.

Warga melaporkan serangan artileri dan udara menghantam Zeitoun, Sabra, Tuffah, dan Shejaia. Tank-tank Israel bergerak ke arah timur Sheikh Radwan, menghancurkan rumah-rumah dan tenda pengungsian.

Petugas medis menyebut sedikitnya delapan orang tewas dan puluhan luka-luka setelah lima rumah hancur akibat serangan di Tuffah.

“Pendudukan Israel menargetkan kerumunan warga sipil dan beberapa rumah di daerah Mashahra di lingkungan Tuffah — sabuk api yang menghancurkan empat bangunan,” ujar Mahmoud Bassal, juru bicara layanan darurat sipil Gaza. “Bahkan jika pendudukan Israel mengeluarkan peringatan, tidak ada tempat yang dapat menampung warga sipil; tidak ada tempat alternatif bagi mereka untuk berlindung.”

Baca Juga
Ketua DPRK Banda Aceh Ikut Sampaikan Orasi Ditengah Ribuan Massa Aksi Bela Palestina

Krisis Kemanusiaan Memburuk

PBB dan otoritas Palestina memperingatkan tidak ada tempat aman di Gaza. Amjad al-Shawa, Direktur Jaringan LSM Palestina, menyebut kondisi pemindahan paksa yang terjadi saat ini sebagai “yang paling berbahaya sejak perang dimulai.”

“Penolakan orang-orang untuk pergi meskipun terjadi pemboman dan pembunuhan merupakan tanda bahwa mereka telah kehilangan kepercayaan,” katanya.

Otoritas kesehatan Gaza melaporkan 370 orang, termasuk 131 anak-anak, meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi dalam beberapa minggu terakhir.

Sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya, lebih dari 63 ribu warga Palestina terbunuh akibat serangan Israel, menurut pejabat kesehatan Gaza.

Sementara itu, dua senator Demokrat Amerika Serikat, Chris Van Hollen dan Jeff Merkley, usai berkunjung ke Gaza dan Tepi Barat menyatakan: “Berdasarkan percakapan dan pengamatan kami, kami sampai pada kesimpulan yang tak terjelaskan bahwa pemerintah Netanyahu terlibat dalam kampanye pembersihan etnis di Gaza dan pembersihan etnis gerak lambat di Tepi Barat.”

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks