TERBARU

InternasionalNews

Trump Klaim AS Punya Senjata Canggih yang Tak Diketahui Dunia

ORINEWS.id – Donald Trump mengklaim Amerika Serikat (AS) memiliki senjata canggih yang tidak diketahui siapa pun seiring berkembangnya spekulasi mengenai teknologi yang digunakan dalam operasi militer Venezuela yang menculik Maduro.

Dalam sebuah wawancara dengan BeritaNation, Trump ditanya tentang rumor bahwa AS menggunakan persenjataan yang tidak konvensional, termasuk laporan teknologi “sonic”, selama a operasi militer di Venezuela.

“Kami memiliki senjata yang tidak diketahui siapa pun, dan saya katakan mungkin ada baiknya untuk tidak membicarakannya, namun kami memiliki beberapa senjata yang luar biasa”, kata Trump.

Operasi militer AS di Venezuela

Pada tanggal 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi militer skala besar di Venezuela yang mengakibatkan penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores, yang diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan federal.

Meskipun beberapa komentar media dan postingan sosial menyarankan penggunaan senjata baru atau rahasia termasuk apa yang disebut ‑ sonic“atau perangkat energi” terarah, tidak ada konfirmasi resmi dari otoritas AS bahwa sistem tersebut telah diterapkan.

Laporan penggunaan teknologi canggih didasarkan pada klaim saksi mata yang belum diverifikasi, dan outlet berita besar belum membuktikannya.

Baca Juga
Jokowi Gagal Romantis Jelang Pelantikan Kepala Daerah, Iriana Kepergok Tepis Tangan Suami Depan Umum

Intervensi AS dan penculikan Presiden Nicolás Maduro memicu kecaman internasional yang meluas, dengan banyak pemerintah dan badan global mengecam Washington tindakan sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan kedaulatan nasional.

Sebuah jajak pendapat Wall Street Journal mengungkapkan bahwa orang Amerika masih terpecah belah serangan AS terhadap Venezuela, yang menyebabkan penculikan Presiden Nicolas Maduro.

Menurut survei, yang dilakukan antara 8 dan 13 Januari di antara 1.500 warga AS, 49 persen menyetujui operasi militer, sementara 47 % tidak setuju. Margin kesalahan jajak pendapat adalah sekitar 2,5 % .

Perpecahan yang erat ini menggarisbawahi betapa kontroversial operasi AS, dan merupakan serangan yang tidak adil terhadap kedaulatan Venezuela, yang memicu kekhawatiran internasional atas intervensi asing di negara tetangga.

Sementara Presiden Maduro tetap ditahan secara tidak sah di Amerika Serikat, pemerintahan Trump telah melakukannya secara konsisten menyatakan bahwa mereka akan “menjalankan” Venezuela. Tujuannya adalah untuk memperoleh kekayaan minyak dan gas Venezuela yang sangat besar.

Hampir 50 tentara Venezuela

Dilaporkan hampir 50 tentara Venezuela tewas dalam operasi militer Amerika Serikat yang menargetkan ibu kota Caracas dan berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro, kata Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez.

Dilansir dari Al Jazeera, Sabtu, 17 Januari 2026, Padrino mengatakan sembilan dari 47 prajurit Venezuela yang tewas merupakan perempuan. Angka tersebut direvisi naik dari laporan awal yang menyebutkan 23 korban jiwa. Secara keseluruhan, menurut Padrino, sedikitnya 83 orang tewas dalam serangan militer AS yang terjadi pada 3 Januari.

Baca Juga
Demo di Los Angeles Memuncak Jadi Kerusuhan Besar, Trump Didugat usai Kerahkan Garda Nasional

Korban tewas juga mencakup 32 tentara Kuba, sebagian di antaranya bertugas dalam tim pengamanan pribadi Presiden Maduro.

“Apa yang telah dilakukan para prajurit Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian kami dalam menghadapi agresi militer? Mereka telah mengorbankan nyawa, mereka telah menghormati sejarah dan tanah air,” ujar Padrino dalam upacara penghormatan bagi para korban.

Ia menambahkan pemerintah Venezuela akan menentukan lokasi pembangunan monumen untuk mengenang para korban tewas. Pada Kamis, Kuba menerima jenazah 32 tentaranya yang disebut tewas dalam pertempuran pada dini hari 3 Januari.

Lebih dari 112 orang juga dilaporkan terluka dalam operasi militer AS tersebut, yang diawali dengan pemboman sasaran-sasaran militer dan berakhir dengan pendaratan pasukan AS menggunakan helikopter serta penculikan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dari kediaman mereka di Caracas.

Hingga kini, jumlah pasti korban sipil akibat serangan tersebut masih belum dapat dipastikan. Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello mengatakan para ahli perlu melakukan uji DNA untuk mengidentifikasi sejumlah korban, karena beberapa di antaranya “terhancur menjadi potongan kecil” akibat serangan AS. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks