*Oleh: Awalin Ridha S. Pd
Di era ketika manusia sangat bergantung pada teknologi, kita sering lupa bahwa alat-alat modern adalah yang paling cepat lumpuh ketika bencana datang. Listrik padam, jembatan putus, jalan retak, sinyal menghilang, dan kendaraan tak bisa bergerak.
Di tengah kekacauan itu, kita kembali menyadari bahwa ada hal-hal sederhana yang justru bertahan hidup lebih lama daripada mesin. Salah satunya adalah kuda, hewan yang di banyak negara maju masih menjadi bagian penting dari operasi penyelamatan.
Amerika Serikat, misalnya, tetap mempertahankan unit-unit penyelamatan berkuda seperti Mounted Search and Rescue. Di Colorado, California, dan Arizona, kuda digunakan untuk menjangkau pendaki hilang atau warga yang terjebak di daerah pegunungan.
Pada banjir besar Colorado tahun 2013, ketika truk dan mobil tak lagi bisa bergerak karena lumpur dan reruntuhan, tim berkuda justru mampu menembus jalur yang tersisa untuk membawa makanan dan mengevakuasi warga. Tepat pada momen ketika teknologi tumbang, kuda menjadi penyelamat.
Australia pun menunjukkan hal yang sama. Negara itu menggunakan kuda untuk patroli kebakaran hutan, pencarian orang hilang, hingga distribusi bantuan ke daerah pedalaman. Ketika kebakaran Black Summer 2019–2020 membuat helikopter tak dapat terbang karena asap, relawan berkuda justru menjadi satu-satunya yang bisa mengantar air dan obat ke komunitas yang terputus. Di tempat-tempat yang tampaknya modern sekalipun, ternyata mobilitas tradisional masih diperlukan.
Begitu pula Kanada, yang mengandalkan kuda melalui Royal Canadian Mounted Police. Dalam badai salju parah ketika mesin kendaraan beku dan akses jalan tertutup, tim berkuda tetap dapat bergerak dari rumah ke rumah di Yukon dan British Columbia untuk memastikan warga bertahan hidup. Kuda terbukti mampu bergerak di medan yang mematikan bagi kendaraan.
Di Jepang, setelah Gempa Tohoku 2011, beberapa desa yang hancur total jalannya menerima bantuan melalui relawan berkuda. Jalur yang longsor dan sempit tidak bisa dilewati kendaraan besar, tetapi kuda mampu berjalan dengan stabil. Negara sebesar Jepang pun kembali pada kebijaksanaan lama demi menyelamatkan nyawa.
Afghanistan adalah contoh paling ekstrem. Pegunungan yang curam menjadikan kuda dan bagal sebagai satu-satunya alat transportasi pada bencana badai salju dan longsor. Tim penyelamat internasional bahkan tidak punya pilihan lain selain menggunakan hewan-hewan ini untuk membawa obat-obatan dan mengevakuasi korban.
Semua contoh ini memperlihatkan satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan, yaitu ketika teknologi runtuh, kuda tetap melaju. Negara maju mempertahankannya bukan karena romantisme sejarah, tetapi karena efektivitas yang nyata.
Dan ketika kita melihat kondisi Indonesia hari ini, khususnya Aceh yang sedang dilanda banjir bandang dan longsor saat ini, kita mungkin perlu mempertimbangkan kembali bahwa pendekatan yang sama bisa diterapkan di sini.
Banyak desa di Aceh berada di lembah sempit, di kaki bukit, di jalur yang mudah tertutup lumpur dan pohon tumbang. Saat banjir datang, kendaraan sering tidak bisa mencapai lokasi. Saat longsor terjadi, alat berat pun memerlukan waktu untuk menembus jalan. Di situlah kuda bisa menjadi opsi mobilitas darurat yang cepat dan tidak bergantung pada bahan bakar atau kondisi jalan.
Indonesia memiliki sejarah panjang dengan kuda, dari tradisi Aceh hingga Nusa Tenggara. Kita hanya perlu menghidupkan kembali fungsinya sebagai alat kesiapsiagaan. Jika negara-negara maju saja menjadikan kuda sebagai bagian dari operasi SAR mereka, bukankah Indonesia pun dapat mulai membangun unit serupa, minimal sebagai pilot project di wilayah rawan bencana seperti Aceh. Kuda bisa menjadi solusi sederhana yang selama ini tidak kita lihat.
Pada akhirnya, sunnah berkuda tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia berbicara tentang ketahanan, tentang kemampuan bergerak ketika dunia berhenti. Dan mungkin suatu hari nanti, ketika jalan tertimbun dan teknologi tak bisa membantu, derap kuda akan menjadi tanda pertama bahwa bantuan sedang datang. Indonesia pun bisa memulai langkah itu, dari sekarang atau untuk masa depan yang semakin tidak pasti.






























