ORINEWS.id – Pasukan Israel kembali melancarkan serangkaian serangan di Jalur Gaza pada Minggu dini hari, meskipun gencatan senjata yang berlaku sejak 11 Oktober masih secara formal diumumkan. Serangan terjadi di wilayah utara, tengah, hingga selatan Gaza, menambah daftar pelanggaran yang dilaporkan hampir setiap hari.
Laporan dari koresponden Al Mayadeen menyebut serangan di Gaza utara menghancurkan bangunan permukiman di sekitar bundaran Zayed, timur Beit Lahia. Aksi tersebut kembali memicu ketegangan di wilayah yang sebelumnya mengalami jeda setelah pemberlakuan gencatan senjata.
Di Gaza tengah, tembakan artileri dilaporkan menghantam kawasan timur kamp pengungsi Al-Bureij. Warga yang memilih tetap tinggal di rumah sejak awal masa gencatan senjata kembali menghadapi risiko serangan berulang.

Serangan juga dilaporkan di Gaza selatan. Kota Khan Younis mengalami pemboman artileri dan tembakan dari kendaraan lapis baja Israel. Sementara itu, di Rafah, pasukan Israel melakukan serangan udara dan operasi pembongkaran, memperluas cakupan pelanggaran di wilayah tersebut.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sebanyak 318 warga Palestina tewas dan 788 lainnya terluka sejak gencatan senjata diberlakukan.
20 Orang Tewas dalam Serangan Sabtu
Sehari sebelumnya, serangan udara Israel pada Sabtu menewaskan setidaknya 20 warga Palestina, termasuk anak-anak. Serangan itu terjadi di sejumlah titik di seluruh Jalur Gaza.
Di Kota Gaza bagian barat, lima orang tewas saat sebuah kendaraan dihantam di dekat persimpangan al-Abbas. Di lingkungan al-Nasr, sebuah serangan udara terhadap apartemen hunian menewaskan empat orang dan melukai lainnya.
Di bagian selatan, serangan terhadap sebuah rumah di barat Deir al-Balah menewaskan tiga orang. Di kamp Nuseirat, serangan udara menewaskan tiga orang di rumah keluarga Abou Ammouneh. Serangan lain terhadap rumah keluarga Abou Shawish menewaskan tujuh orang.
Rumah Sakit Al-Awda di Nuseirat juga melaporkan menerima satu jenazah dan tujuh luka-luka akibat serangan di dekat fasilitas medis tersebut.
Kementerian Kesehatan Gaza menyampaikan hitungan awal korban dari eskalasi itu mencapai 20 tewas dan lebih dari 83 terluka, sebagian dalam kondisi kritis.
Laporan: Serangan Didukung Pemerintahan AS
Media Axios, mengutip seorang pejabat Amerika Serikat, memberitakan bahwa serangan udara pada Sabtu dilakukan dengan persetujuan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Di tengah meningkatnya eskalasi, Gerakan Hamas menolak segala upaya pemerintah Israel dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menciptakan kondisi baru di Gaza yang dianggap bertentangan dengan kesepakatan gencatan senjata. Hamas mendesak para mediator internasional untuk menekan Israel agar menghentikan seluruh pelanggaran. []










































































