ORINEWS.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan Wali Kota New York terpilih, Zohran Mamdani, di Gedung Putih pada Jumat, 21 November 2025, waktu setempat. Pertemuan perdana itu berlangsung tertutup dan menjadi sorotan karena hubungan kedua tokoh sebelumnya diwarnai serangan terbuka di ruang publik.
Setelah pertemuan, Trump dan Mamdani muncul bersama di Ruang Oval. Trump menyebut pertemuan berlangsung positif.
“Kita baru saja mengadakan pertemuan yang hebat, pertemuan yang sangat bagus dan sangat produktif,” ujar Trump dari balik Resolute Desk, dengan Mamdani berdiri di sampingnya.

Trump mengucapkan selamat atas kemenangan Mamdani dalam pemilihan Wali Kota New York dan menyatakan keduanya memiliki kepentingan yang sama untuk memperbaiki kota tersebut. Mamdani, politikus Demokrat berusia 33 tahun dan Wali Kota Muslim pertama di kota itu, juga menyebut pertemuan tersebut produktif.
Hubungan yang Sempat Memanas
Sebelum pertemuan ini, Trump dan Mamdani beberapa kali saling sindir secara terbuka. Pada Juni lalu, Trump mencemooh Mamdani sebagai “komunis gila” dan “tidak terlalu pintar” setelah Mamdani mengungguli Andrew Cuomo di pemilihan pendahuluan Partai Demokrat.
Trump kembali melancarkan serangan menjelang pemilihan 3 November dengan menyebut pemilih Yahudi yang mendukung Mamdani sebagai “orang bodoh.”
Ia juga mengancam menahan dana federal apabila Mamdani terpilih.
Mamdani membalas kritik itu dalam pidato kemenangannya. Ia menyebut kemenangan dirinya sebagai contoh bagaimana New York bisa melawan figur seperti Trump.
“Di masa kegelapan politik ini, New York akan menjadi cahaya,” kata Mamdani.
Nada Berubah Usai Pertemuan
Dalam pernyataan usai pertemuan di Gedung Putih, Trump mengatakan Mamdani memiliki potensi besar.
“Saya pikir Anda akan memiliki, semoga, seorang wali kota yang benar-benar hebat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Mamdani mungkin akan “mengejutkan” kelompok konservatif maupun progresif.
Mamdani pada kesempatan yang sama mengatakan diskusi dengan Trump fokus pada isu keterjangkauan hidup di New York.
“Kami berbicara tentang sewa, kebutuhan pokok, utilitas, dan berbagai cara orang-orang tergusur,” kata Mamdani.
Ia menyebut berkomitmen bekerja sama untuk meningkatkan akses warga terhadap kebutuhan dasar.
Pertemuan tersebut menandai perubahan nada dari kedua belah pihak, setelah berbulan-bulan saling serang, terutama selama masa kampanye di New York. []










































































