ORINEWS.id – Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar, menganugerahkan gelar Perkasa Alam kepada almarhum H. Kamaruddin Abu Bakar atau Abu Razak. Penganugerahan itu berlangsung dalam kegiatan “Gelar Kehormatan Wali Nanggroe” pada Rabu, 12 November 2025, di Pendopo Wali Nanggroe.
Kabag Kerjasama dan Humas Wali Nanggroe, Zulfikar Idris, mengatakan gelar tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas jasa almarhum dalam perjuangan Aceh. Prosesi ditandai dengan penyematan pin dan peusijuek atau tepung tawar, yang diterima oleh putra tertua Abu Razak, Muntazar.
Perkasa Alam merupakan gelar kehormatan yang khusus diberikan Wali Nanggroe kepada tokoh yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap perjuangan dan pengabdian untuk Aceh.
Abu Razak wafat di Mekkah, Arab Saudi, pada Rabu, 19 Maret lalu sekitar pukul 06.00 waktu setempat, ketika menunaikan ibadah umrah. Sosok yang lama dikenal sebagai tokoh sentral dalam sejarah Aceh itu lahir di Kaye Jatoe, Pidie, pada 1 Mei 1967.
Riwayat pendidikannya dimulai dari SD Negeri Teupin Raya (1973–1980), kemudian melanjutkan ke SMP Negeri Teupin Raya (1980–1983) dan SMA Negeri Teupin Raya (1983–1986). Ia sempat menempuh studi di Akademi Akuntansi Universitas Syiah Kuala sebelum situasi Aceh yang memanas membuatnya tidak dapat menyelesaikannya. Pada 1988–1989, ia mengikuti pendidikan militer di Kamp Tajura, Libya.
Perjalanan organisasi Abu Razak dimulai saat ia bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 1988. Setahun kemudian, ia dipercaya sebagai bagian dari Tim Pengawal Pribadi Presiden Libya, Muammar Khadafi. Kiprahnya terus meningkat hingga menjabat sebagai Panglima Wilayah Pidie GAM (1998–2000), Komandan Operasi GAM (2000–2002), dan kemudian Wakil Panglima GAM (2002–2005), masa-masa yang menjadi fase penting menuju perundingan damai dan penandatanganan MoU Helsinki.
Setelah damai, perannya dalam pembangunan Aceh berlanjut. Ia menjadi Wakil Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) sejak 2005, serta aktif dalam Partai Aceh sebagai Wakil Ketua Umum (2007–2018) dan Sekretaris Jenderal sejak 2018 hingga akhir hayatnya. Di dunia olahraga, ia pernah menjabat sebagai Ketua Harian KONI Aceh selama dua periode (2014–2022) sebelum diangkat menjadi Ketua Umum KONI Aceh pada 2022. []
































