ORINEWS.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh mencatat 260 orang terdiagnosis positif HIV atau Human Immunodeficiency Virus berdasarkan pemeriksaan sejak Januari hingga September 2025 di seluruh wilayah Aceh.
Staf Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh, Muhammad Jamil, mengatakan penyebaran HIV di Aceh sebagian besar berasal dari hubungan seksual sesama jenis atau kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL).
“Saat ini memang banyak terdeteksi para penyuka sesama jenis yang menjadi penderita HIV,” ujar Muhammad Jamil, yang akrab disapa MJ, dalam acara pembekalan dan sharing session bersama jurnalis tentang edukasi HIV, sifilis, dan hepatitis B. Kegiatan ini digelar Dinkes Aceh bekerja sama dengan UNICEF di Banda Aceh, Senin (3/11/2025).
Berdasarkan data Dinkes Aceh, dari 80.146 orang yang diskrining terdapat 120 kasus positif HIV-AIDS dan 37 kasus positif sifilis. Dari 55.638 ibu hamil yang diskrining, enam orang terdeteksi positif HIV. Pemeriksaan calon pengantin juga menunjukkan enam kasus positif HIV.
Distribusi kasus ODHIV berdasarkan umur periode Januari–September 2025, yakni:
- 0–10 tahun: 7 orang
- 11–20 tahun: 31 orang
- 21–30 tahun: 119 orang
- 31–40 tahun: 64 orang
- 41–50 tahun: 25 orang
- 51–60 tahun: 11 orang
- > 60 tahun: 3 orang
Dari 260 kasus positif HIV, berdasarkan jenis kelamin, 47 perempuan dan 213 laki-laki.
Kendati demikian, MJ mengimbau masyarakat untuk tidak menstigma atau mendiskriminasi orang dengan HIV (ODHIV), karena banyak masyarakat masih salah kaprah soal penularan HIV.
“Penyebaran HIV hanya terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, serta ASI. HIV tidak dapat ditularkan melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, ataupun sentuhan fisik,” jelasnya.
Dia juga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan bagi seluruh masyarakat, terutama calon pengantin, agar menjadi orang tua yang sehat dan melahirkan anak yang sehat.
“Mencegah lebih baik daripada mengobati. Hindari hubungan seksual tanpa pengaman dengan penderita HIV, penggunaan jarum suntik bergantian yang tidak steril, dan transfusi darah yang terkontaminasi HIV,” tutup MJ.
Reporter: Khaidir


































