ORINEWS.id – Pasukan Amerika Serikat dilaporkan telah menarik diri sepenuhnya dari pangkalan militer Al-Tanf di Suriah tenggara dan memindahkan personel ke Yordania. Kendali fasilitas strategis tersebut kini diserahkan kepada otoritas baru Suriah.
Kabar penarikan itu diungkap kantor berita Associated Press pada Rabu, 11 Februari 2026, dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui proses tersebut. Salah satu sumber menyatakan pasukan Amerika “sepenuhnya mundur dari pangkalan Al-Tanf hari ini,” dan posisi mereka digantikan oleh pasukan Suriah.
Sumber lain mengonfirmasi bahwa proses penarikan telah berlangsung selama sekitar dua pekan terakhir, termasuk pemindahan peralatan militer. Ia menambahkan pasukan AS masih akan “terus berkoordinasi dengan pangkalan di Al-Tanf dari Yordania.”
Pangkalan Al-Tanf didirikan pada 2016 dan berada di titik strategis pertemuan perbatasan Suriah, Yordania, dan Irak, tepat di sepanjang jalur utama M2 yang menghubungkan Baghdad dan Damaskus. Selama ini, fasilitas tersebut menjadi pusat operasi koalisi pimpinan AS dalam memerangi kelompok Negara Islam (ISIS) sekaligus lokasi pelatihan pasukan oposisi Suriah.
Pada masa pemerintahan Bashar Assad, kehadiran militer AS di wilayah itu kerap disebut sebagai pendudukan ilegal. Namun hubungan Damaskus dan Washington mulai mencair setelah jatuhnya pemerintahan Assad pada akhir 2024.
Pada November lalu, Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih dan menyepakati kerja sama dalam koalisi anti-ISIS. Amerika Serikat juga mencabut sanksi ekonomi terhadap Suriah yang telah diberlakukan lebih dari satu dekade.
Perubahan kebijakan Suriah berlanjut pada Januari ketika al-Sharaa menggelar pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang membahas rekonstruksi pascakonflik dan kerja sama bilateral, termasuk terkait instalasi militer Rusia di negara tersebut.
Pada bulan yang sama, pemerintah Suriah juga mencapai kesepakatan dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi dan didukung AS untuk mengintegrasikan kelompok itu ke dalam tentara nasional setelah bentrokan berminggu-minggu.
Sementara itu, sejumlah media internasional awal pekan ini melaporkan Amerika Serikat telah mulai memindahkan tahanan ISIS dari Suriah ke Irak, dengan jumlah diperkirakan mencapai 7.000 orang. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari penataan ulang strategi keamanan regional pascapenarikan pasukan. []


































