ORINEWS.id – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah menyelundupkan ribuan terminal internet satelit ke Iran di tengah gelombang demonstrasi besar yang mengguncang negara tersebut.
Laporan The Wall Street Journal yang dikutip The Independent pada Jumat, 13 Februari 2026, menyebutkan pemerintah Amerika Serikat telah mengirim sekitar 6.000 perangkat internet satelit dalam operasi rahasia. Pengiriman ini disebut sebagai langkah untuk membantu warga Iran menghindari sensor ketat pemerintah.
Sejumlah pejabat AS mengungkapkan Kementerian Luar Negeri telah membeli hampir 7.000 terminal dalam beberapa bulan terakhir. Perangkat tersebut ditujukan untuk membantu aktivis anti-pemerintah mengatasi pemutusan internet nasional yang diberlakukan Teheran saat protes meluas akibat krisis ekonomi dan anjloknya nilai mata uang.
Pemadaman internet itu berlangsung lebih dari dua pekan dan dilaporkan terjadi bersamaan dengan tindakan keras aparat keamanan terhadap demonstran. Kelompok hak asasi manusia memperkirakan ribuan warga sipil tewas selama penindakan tersebut.
Keputusan pengiriman perangkat disebut muncul setelah pejabat senior pemerintahan Trump mengalihkan dana dari program kebebasan internet lain yang sebelumnya dijalankan di Iran. Meski Trump dilaporkan mengetahui operasi tersebut, belum dipastikan apakah ia memberikan persetujuan langsung.
Risiko hukum dan dukungan Musk
Di Iran, kepemilikan terminal internet satelit tersebut dinyatakan ilegal dan dapat berujung hukuman penjara bertahun-tahun. Namun, perusahaan teknologi antariksa SpaceX milik Elon Musk dilaporkan membebaskan biaya langganan bulanan bagi pengguna di Iran sebagai bentuk dukungan pasca penindakan pemerintah.
Sementara itu, organisasi HAM HRANA memperkirakan sejak demonstrasi dimulai pada akhir Desember 2025, sedikitnya 7.002 orang tewas dan lebih dari 11.700 lainnya masih dalam proses penyelidikan.
Langkah penyelundupan perangkat ini terjadi di tengah pembicaraan tingkat tinggi antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran. Trump sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan militer jika kesepakatan tidak tercapai, memicu kekhawatiran konflik lebih luas di Timur Tengah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak mencari senjata nuklir dan siap menjalani proses verifikasi internasional. Namun, ia menilai diplomasi dengan Barat terhambat oleh ketidakpercayaan mendalam.
“Tembok ketidakpercayaan yang tinggi yang diciptakan AS dan Eropa melalui pernyataan dan tindakan masa lalu mereka tidak memungkinkan pembicaraan ini mencapai kesimpulan,” kata Pezeshkian dalam pidato peringatan hari ulang tahun revolusi Iran.
Di sisi lain, Teheran menuduh Israel berupaya menyabotase negosiasi setelah Trump bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Kepala Keamanan Teheran Ali Larijani menegaskan dialog Iran hanya dilakukan dengan Amerika Serikat.
“Negosiasi kami secara eksklusif dilakukan dengan AS, kami tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun dengan Israel,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait laporan pengiriman perangkat tersebut, sementara Teheran terus menuduh Washington berupaya memicu perpecahan di dalam negeri Iran. []
































