ORINEWS.id – Universitas Syiah Kuala (USK) terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi berdampak melalui Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Pengabdian kepada Masyarakat.
Kegiatan ini mengangkat tema “Membangun Ketahanan Daerah melalui Air Bersih, Energi Berkelanjutan, dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat” dan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik USK Prof. Dr. Agussabti, di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh, Kamis, 5 Februari 2026.
Dalam sambutannya, Prof. Agussabti menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas untuk mendorong aksi nyata pencapaian SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 7 (Affordable and Clean Energy), dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang meningkatkan risiko banjir dan degradasi sumber air.
“USK perlu menghimpun gagasan dan rekomendasi strategis yang nantinya bisa diturunkan menjadi rencana aksi bersama pemerintah daerah agar hasil FGD melahirkan proyek-proyek implementatif sebagai wujud kampus berdampak,” ucapnya.
Ketua Panitia Dr. Sulastri, menjelaskan, FGD difokuskan pada penguatan SDG 6 tentang akses air bersih dan sanitasi layak, SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau, serta SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui kolaborasi lintas sektor dalam Program EQUITY USK 2025–2026 yang didukung LPDP dan Kemdiktisaintek.
Hal ini sejalan dengan penegasan Ketua Equity USK Prof. Muslim Akmal bahwa capaian USK di THE Impact Rankings 2025 serta masuknya QS World University Rankings perlu diperkuat dengan aksi nyata berbasis program yang berdampak langsung di masyarakat.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Tri Mumpuni (Dewan Pengarah BRIN) dan Prof. Saiful, Guru Besar USK. Peserta berasal dari lintas sektor, antara lain Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Banda Aceh, BPBD Kota Banda Aceh, Dinas Sosial, DLHK3 Kota Banda Aceh, Forum Pengurangan Risiko Bencana Aceh, serta sivitas akademika USK.
Di akhir kegiatan, peserta merumuskan rekomendasi untuk SDGs 6, 7, dan 8, meliputi perlunya penguatan ketahanan air melalui penyediaan infrastruktur air bersih dan air limbah, pengendalian pencemaran, perluasan akses air minum aman, serta edukasi perilaku hemat air.
Lalu percepatan transisi energi bersih melalui transportasi kampus ramah lingkungan dan pengembangan energi terbarukan (PLTS, PLTMH, mikrohidro) di kampus serta desa terpencil/pulau kecil, peningkatan rasio elektrifikasi dan bauran energi baru terbarukan Aceh, serta pemanfaatan teknologi surya untuk sektor pertanian dan perikanan.
Rekomendasi lainnya adalah penguatan ekonomi inklusif melalui penghapusan pekerja anak, perluasan akses kerja layak bagi perempuan dan penyandang disabilitas, dan pengembangan UMKM melalui fasilitasi akses pembiayaan dan pasar secara kolaboratif baik dengan pemerintah daerah, PLN, dan mitra terkait.
USK berharap rekomendasi tersebut bisa ditindaklanjuti melalui program pengabdian terukur dan kemitraan berkelanjutan agar dampaknya langsung dirasakan masyarakat serta berkontribusi pada pencapaian SDGs di Aceh. []






























