TERBARU

Opini

Warkop Aceh Simbol Energi yang Tak Pernah Padam

*Oleh: Safrul Mulyadi

Di tengah hiruk-pikuk masyarakat Aceh yang digaduhkan oleh krisis energi berkepanjangan, provinsi ini seolah kembali masuk ke labirin peradaban lampau. Listrik yang padam berjam-jam, bahkan berhari-hari, memaksa warga menjalani kehidupan yang tak jauh berbeda dari masa lalu. Istilah time travel ke masa silam terasa relevan untuk menggambarkan kondisi ini.

Krisis energi jelas menghadirkan banyak kerugian. Aktivitas ekonomi terganggu, layanan publik tersendat, dan kehidupan rumah tangga berjalan pincang. Namun di balik dampak buruk tersebut, terselip pelajaran sosial yang jarang disadari, terutama bagi generasi muda. Situasi ini menghadirkan pengalaman langsung tentang bagaimana manusia bertahan sebelum teknologi modern menjadi sandaran utama.

Peralatan yang selama ini tersingkir oleh zaman kembali menunjukkan fungsinya. Kompor minyak tanah, setrika arang, hingga lampu pelita yang nyaris punah kini hadir sebagai penyelamat. Benda-benda ini seakan mengingatkan bahwa peradaban tidak selalu dibangun di atas listrik dan mesin, melainkan pada kemampuan manusia beradaptasi.

Baca Juga
Belasan Kabel Trafo PLN Dicuri, Pasokan Listrik di Aceh Terganggu dan Picu Pemadaman
DONASI TAHAP KEDUA

Bagi generasi milenial, krisis ini membuka lembar nostalgia yang selama ini hanya tersimpan dalam cerita orang tua. Kehidupan tanpa listrik bukan lagi dongeng, melainkan realitas yang harus dijalani. Dari situ, muncul kesadaran bahwa kemajuan teknologi tidak pernah benar-benar menghapus masa lalu, hanya menyingkirkannya sementara.

Di saat yang sama, krisis ini justru menegaskan kuatnya kearifan lokal Aceh. Warung kopi (warkop), misalnya, kembali menegaskan perannya yang lebih dari sekadar tempat minum kopi. Ia adalah ruang sosial, ruang diskusi, dan simpul peradaban yang hidup di tengah keterbatasan.

Bagi masyarakat Aceh, meja kopi bukan sekadar furnitur. Dari sanalah gagasan lahir, persoalan dibahas, dan solidaritas dirajut. Setiap Warkop menyimpan cerita dan sejarahnya sendiri, menjadikannya simbol napas kehidupan sekaligus daya tahan sosial masyarakat Aceh.

Pemadaman listrik yang tak kunjung menemukan ujung memaksa warung kopi bertransformasi. Cahaya lampu—entah dari genset atau pelita—menjadi komoditas berharga. Dalam kondisi ini, sinar lampu bahkan terasa lebih bernilai daripada emas, karena darinya kehidupan sosial tetap menyala.

Tak berlebihan jika Warkop disebut sebagai pahlawan revolusi dalam krisis ini. Ia menjaga denyut kehidupan masyarakat ketika negara dan sistem energi gagal menjalankan fungsinya secara optimal. Warkop menjadi bukti bahwa peradaban bisa bertahan bukan karena kemewahan, melainkan karena kebersamaan.

Baca Juga
SBY dan Jokowi di Mata Publik: Warisan, Dinasti, dan Citra

Pada akhirnya, krisis listrik di Aceh memberi pesan penting: kobaran semangat hidup dan perjuangan masyarakat tidak mudah padam. Bahkan ketika lampu mati, Warkop tetap menyala, menjadi saksi bahwa daya tahan sosial sering kali lebih kuat daripada infrastruktur yang rapuh.

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks