TERBARU

LingkunganSains

BRIN Kembangkan Wadah Makanan dari Pelepah Pisang, Solusi Baru Kurangi Sampah Plastik

ORINEWS.id – Indonesia menghadapi tantangan serius terkait volume sampah plastik yang terus meningkat, yang berdampak buruk pada lingkungan karena sifatnya yang sulit terurai.

Menanggapi isu ini, seperti dilansir National Geographic Indonesia, Minggu (26/10/2025), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengambil langkah inovatif dengan mengembangkan bahan baku alternatif untuk food container atau wadah makanan.

Inovasi ini berfokus pada pemanfaatan biomassa dari pelepah pisang, sebuah langkah maju untuk mengurangi ketergantungan pada plastik dan material sintetis yang tidak ramah lingkungan.

Pengembangan material ramah lingkungan ini merupakan hasil kerja keras tim peneliti BRIN, khususnya Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk. Mereka memanfaatkan teknologi biomassa untuk mengubah serat alami dari tumbuhan menjadi material kemasan yang jauh lebih aman dan mudah terdegradasi.

Dengan memanfaatkan limbah pertanian seperti pelepah pisang yang selama ini belum dioptimalkan, BRIN membuka peluang baru untuk solusi kemasan berkelanjutan.

Lantas, bagaimana detail dari inovasi wadah makanan berbasis pelepah pisang yang digagas oleh BRIN ini?

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Sukma Surya Kusumah, menjelaskan bahwa inovasi ini tidak hanya menggantikan plastik, tetapi juga memastikan keamanan pangan. Ia menekankan bahwa wadah makanan berbasis pelepah pisang aman digunakan untuk produk-produk kering.

Baca Juga
Luhut: Orang di Luar Pemerintah Jangan Banyak Omong

Secara pengujian migrasi tidak menyebabkan perpindahan bahan kimia yang ada di dalam food container ke dalam produk makanan,” ujarnya, di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, pada Selasa (4/2) lalu, seperti dilansir laman resmi BRIN.

Keamanan ini terjamin karena proses pengembangan yang dilakukan telah berhasil menghilangkan bahan-bahan kimia berbahaya yang mungkin terdapat dalam pelepah pisang itu sendiri.

Sukma juga menerangkan bahwa bahan baku serat alam atau lignocellulosa fiber untuk wadah makanan sebetulnya bisa didapat dari berbagai tumbuhan lain, tidak hanya pelepah pisang.

Sumber potensial lainnya termasuk pelepah pinang, serat nanas, serat kenaf, hingga tanaman jagung. Semua bahan ini kaya akan selulosa yang berfungsi sebagai material penguat pada wadah makanan.

Untuk menyempurnakan inovasi ini, Sukma bersama salah satu siswa bimbingannya, Aprilia, telah mengembangkan perekat alami atau matriks yang terbuat dari kitosan.

Kitosan adalah bahan yang sangat ramah lingkungan dan tidak berbahaya bagi kesehatan, karena dapat diperoleh dari limbah laut seperti cangkang kepiting dan udang, atau dari tulang dan sirip ikan.

Secara komersial, wadah makanan dari pelepah pisang memang belum dimanfaatkan secara luas oleh industri. Namun, Sukma mengungkapkan bahwa teknologi komposit yang menggunakan bahan alam serupamisalnya pelepah pinang—sudah dimanfaatkan oleh mitra industri BRIN, PT. Jentera Garda Futura. Produk mereka bahkan sudah dipasarkan di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Bali.

Baca Juga
Pakar: Jika AS Bantu Israel Serang Iran, Trump Bisa Tamat

Inovasi ini bertujuan utama untuk mengatasi masalah limbah plastik, gabus sintetis, dan karton yang dikenal sulit terdegradasi oleh mikroorganisme. Keunggulan wadah makanan dari pelepah pisang adalah sifatnya yang mudah terdegradasi, hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu untuk terurai setelah dibuang.

Selain ramah lingkungan dan mudah terurai, bahan baku ini juga melimpah dan murah, karena berasal dari batang pohon yang sudah tidak produktif dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Meskipun demikian, wadah makanan berbasis bahan alam ini masih memiliki tantangan terkait durability atau keawetannya, sebab saat ini hanya dirancang untuk sekali pakai. Sukma mengakui perlunya pengembangan lebih lanjut.

Tantangannya adalah bagaimana bisa meningkatkan kemampuan wadah makanan ini lebih dari satu kali pemakaian, seperti produk wadah makanan berbasis plastik konvensional,” tutupnya.

Ia menambahkan bahwa penerapan teknologi coating atau pelapisan dalam proses pembuatan dapat menjadi solusi agar wadah makanan ini bisa digunakan berulang kali. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks