ORINEWS.id – Pemimpin senior Hamas, Khalil al-Hayya, muncul di media untuk pertama kalinya pada Sabtu, 4 Oktober 2025, sejak serangan Israel di ibu kota Qatar bulan lalu. Dalam pernyataannya, ia berduka atas kehilangan putra dan rekan-rekannya, namun menegaskan bahwa penderitaan pribadi itu tidak terpisahkan dari perjuangan bangsa Palestina.
Al-Hayya, yang juga memimpin tim negosiasi Hamas dalam perundingan gencatan senjata yang dimediasi Qatar dan Mesir, menyampaikan pidatonya melalui rekaman video yang disiarkan Al-Araby TV. Pernyataan ini menjadi penampilannya yang pertama sejak serangan udara Israel pada 9 September lalu, yang menewaskan enam orang, termasuk putranya, Hammam al-Hayya, manajer kantornya Jihad Labbad, dan sejumlah stafnya.
“Saat ini kita hidup dalam bayang-bayang penderitaan, dalam bayang-bayang harga diri dan martabat,” kata al-Hayya, mengutip Al Mayadeen, Minggu (5/10/2025).
Dari Tragedi Pribadi Menjadi Tekad Nasional
Dalam pernyataannya, al-Hayya menggambarkan kehilangan yang dialaminya sebagai bagian dari penderitaan kolektif bangsa Palestina akibat agresi Israel. Ia menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara keluarganya dan ribuan warga Palestina lain yang tewas di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.
“Saya tidak membedakan mereka dengan anak-anak Palestina mana pun di Gaza yang tewas akibat pendudukan,” ujarnya.
Pejabat senior Hamas itu menilai bahwa semua kehilangan yang terjadi memiliki satu akar penyebab, yaitu kejahatan pendudukan Israel yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa jalan pengorbanan mengikat seluruh warga Palestina, dan menggambarkan mereka yang gugur — termasuk putranya — sebagai para martir yang darahnya “membuka jalan menuju pembebasan.”
Pernyataan al-Hayya juga menggema sebagai seruan persatuan di dalam barisan perlawanan Palestina, menggambarkan ketahanan Gaza sebagai simbol perjuangan nasional dan historis bangsa tersebut.
Menanggapi Perjuangan Selama Seabad
Dalam pidatonya, al-Hayya memberikan penghormatan kepada “lebih dari 100 tahun perjuangan Palestina” melawan apa yang ia sebut sebagai intrik Israel dan Barat. Ia memandang perang yang kini berlangsung sebagai kelanjutan dari konfrontasi panjang tersebut.
Ia kembali menegaskan komitmen Hamas untuk pembebasan Palestina “dari sungai hingga laut,” serta menyerukan keteguhan menghadapi apa yang ia sebut sebagai “perang genosida dan keterlibatan Barat” dalam agresi pendudukan.
Diplomasi di Bawah Tekanan
Serangan Israel di Doha pada 9 September terjadi di tengah upaya mediasi baru yang dipimpin Qatar dan Mesir untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata serta pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel.
Serangan yang menargetkan para pejabat senior Hamas itu memicu kecaman luas di kawasan. Pasalnya, serangan tersebut dilancarkan di tengah pertemuan para pemimpin Hamas yang sedang membahas proposal gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat untuk Gaza — langkah yang dipandang sebagai upaya disengaja untuk menggagalkan proses diplomasi.
Pada saat itu, Hamas menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “menghancurkan diplomasi” dan “memilih eskalasi daripada stabilitas.”
Kemunculan kembali Khalil al-Hayya kini dinilai memiliki makna simbolis yang besar bagi Hamas. Kehadirannya memperlihatkan kesinambungan, disiplin, dan ketahanan gerakan tersebut di tengah upaya Israel yang terus-menerus menargetkan kepemimpinan politik Hamas, baik di Gaza maupun di luar negeri. []































