ORINEWS.id – Kepala BPOM Taruna Ikrar menjadi keynote speaker dalam pertemuan Cross Sectoral Obesity Awareness Forum 2025 yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Denmark, Rabu (24/9/2025). Kegiatan yang mengambil tema “Bahas Tuntas Obesitas, Kolaborasi Hadir Membawa Harapan” dibuka oleh Deputy Head of Mission, Kedutaan Besar Denmark Per Brixen.
Pertemuan tersebut dihadiri pula oleh Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalusia serta Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Utama BPOM Maya Gustina, yang mewakili Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif (Deputi 1).
Kepala BPOM menyoroti fenomena penggunaan obat pelangsing yang tidak tepat. Juga kasus adanya klaim beberapa obat dengan izin edar untuk indikasi medis tertentu yang dialihkan dan disalahgunakan sebagai solusi penurunan berat badan, serta seringkali di luar pengawasan medis.
“Obesitas bukan hanya sebagai masalah individu atau gaya hidup secara global, melainkan telah dikenal sebagai masalah kesehatan masyarakat yang serius karena prevalensinya yang semakin meningkat dan perannya sebagai faktor risiko berbagai penyakit kronis,” ucap Taruna Ikrar dalam opening remark-nya yang disampaikan secara virtual.
“Oleh karena itu, saya ingin menekankan pentingnya lingkungan regulasi yang suportif dalam memastikan keselamatan dan mendorong inovasi kesehatan. Salah satu masalah yang menjadi perhatian kami adalah penggunaan obat pelangsing yang tidak tepat,” lanjutnya.
Taruna Ikrar menyebutkan bahwa BPOM memegang peranan penting dalam meningkatkan sistem pengawasan kesehatan di Indonesia.
“BPOM berkomitmen untuk menciptakan lingkungan regulasi yang dapat menyeimbangkan pengawasan dengan kemajuan, dengan berfokus pada keamanan produk obat, makanan, dan suplemen yang beredar, serta mendorong inovasi kesehatan yang bertanggung jawab,” pungkasnya.
Sementara, Per Brixen menggarisbawahi bahwa obesitas tidak hanya disebabkan oleh meningkatnya kuantitas makanan yang dikonsumsi, tapi suatu penyakit yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti genetik, mental, pola hidup, dan lingkungan.
“Hilangkan stigma terhadap obesitas. Obesitas merupakan suatu penyakit yang perlu ditangani serius dan awal dari penyakit-penyakit kronik lainnya, seperti jantung dan diabetes,” tambah Brixen.
Per Brixen mengajak serta mendorong kerja sama lintas sektor untuk bersama menangani obesitas di Indonesia melalui regulasi sampai ke edukasi masyarakat. Para tenaga kesehatan, masyarakat sipil, dan pelaku sektor swasta didorong untuk berperan aktif dalam upaya penanganan dan pengelolaan obesitas melalui advokasi, serta meningkatkan literasi terkait obesitas.
“Mari para stakeholder, dalam hal ini BPOM, Kementerian Kesehatan, dinas kesehatan, hingga pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), serta masyarakat untuk lebih aware terhadap obesitas, termasuk menjaga pola hidup sehat,” tandas Brixen.
Kegiatan hari ini diikuti oleh peserta dari perwakilan kementerian/lembaga/badan yang relevan di bidang kesehatan masyarakat, akademisi, asosiasi, komunitas, media, dan badan internasional, seperti World Health Organization (WHO), United Nations Children’s Fund (UNICEF), dan non-governmental organization (NGO) lainnya. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memperoleh pengetahuan yang memadai mengenai faktor risiko, dampak kesehatan, serta beban sosial akibat obesitas. []

































