ORINEWS.id – Masalah obesitas yang kian meningkat tak bisa lagi dipandang sebagai kesalahan individu semata. Ahli gizi sekaligus peneliti Dr. Kevin Hall menegaskan, faktor lingkungan makanan modern yang sarat produk ultra-proses justru menjadi penyumbang terbesar krisis kesehatan ini.
Hall melakukan dua uji klinis ketat di National Institutes of Health (NIH), Amerika Serikat. Dalam riset pertama, relawan sehat diketahui mengonsumsi rata-rata 500 kalori lebih banyak per hari saat diberi makanan ultra-proses dibandingkan makanan utuh. Hasil sementara penelitian kedua bahkan menunjukkan konsumsi bisa melonjak hingga 1.000 kalori per hari.
Temuan Hall mendapat apresiasi dari Marion Nestle, Profesor Emerita di New York University.
“Ini eksperimen paling penting dalam bidang gizi karena kontrolnya sangat ketat. Peserta tidak bisa lupa atau berbohong tentang apa yang mereka makan,” kata Nestle.
Menurut Hall, produk ultra-proses yang padat energi dan dirancang agar sangat menggugah selera membuat orang sulit berhenti makan.
“Dulu makanan manis seperti pai apel hanyalah suguhan langka. Kini tersedia di mana-mana dengan harga murah, bahkan dipasarkan secara agresif, termasuk kepada anak-anak,” ujarnya, mengutip mediaindonesia, Kamis (25/9/2025).
Ia menjelaskan, penyebab obesitas tak hanya berkaitan dengan pilihan pribadi, melainkan hasil interaksi sinyal biologis, sosial, dan lingkungan. Namun, kondisi lingkungan makanan modern kerap merusak keseimbangan alami tubuh untuk mengendalikan nafsu makan.
Penelitian lain juga menemukan adanya respons mirip kecanduan terhadap makanan ultra-proses. Karena itu, Hall menilai perubahan pada lingkungan makanan sangat penting.
“Kita butuh makanan bergizi yang lebih terjangkau dan tersedia luas, sementara makanan merugikan harus diatur atau dikenakan pajak agar kembali menjadi suguhan sesekali,” katanya.
Sebagai contoh, Hall menyarankan penggunaan saus rendah gula dan garam dipadukan dengan pasta gandum utuh serta sayuran. “Itu tetap makanan praktis, tapi jauh lebih sehat,” tambahnya.
Selain itu, Hall mengkritik tren “nutrisi presisi” yang marak dipasarkan melalui tes genetik atau mikrobioma usus. Menurut dia, pendekatan tersebut belum terbukti lebih efektif daripada nasihat gizi dasar.
Ia mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dengan klaim berlebihan dari diet maupun suplemen.
“Banyak hal yang masih berupa sensasi, sementara yang paling sederhana tetap terbukti benar: pola makan seimbang dengan bahan pangan alami adalah kunci kesehatan,” pungkasnya. []


































