ORINEWS.id – Sebuah dokumen internal PT Pembangunan Aceh (PT PEMA) Perseroda bocor ke publik dan memantik tanda tanya besar. Dokumen dengan kode bukti 073/PEMA-KEU/JV KB CSR/2025 itu berisi rencana pencairan biaya CSR untuk kegiatan Dies Natalis ke-60 Universitas Trisakti di Jakarta.
Padahal, CSR yang dikelola perusahaan pelat merah milik Pemerintah Aceh ini semestinya diperuntukkan bagi masyarakat di Tanah Rencong.
“CSR untuk siapa?” begitu pertanyaan yang ramai bergema di kalangan publik Aceh sejak kabar itu mencuat.
PEMA memang bukan kali pertama disorot soal alokasi dana. Namun kali ini, sorotan menguat karena pencairan untuk universitas swasta di Jakarta dianggap tidak ada kaitannya dengan mandat perusahaan yaitu meningkatkan pendapatan daerah dan menunjang kesejahteraan masyarakat Aceh.
Isu makin pelik lantaran Direktur Utama PEMA, Mawardi Nur, tercatat sebagai alumni Universitas Trisakti. Begitu pula manajer umum PEMA yang baru diangkat, Zipoginovik Mohamad, pria asal Tangerang Selatan yang juga dikabarkan lulusan kampus yang sama. Keterkaitan itu memunculkan dugaan adanya potensi konflik kepentingan, bahkan aroma balas budi, dalam pengalokasian dana CSR.
“Kalau benar dana CSR PEMA dipakai untuk kegiatan Trisakti, itu jelas menyalahi tujuan pendirian BUMA (Badan Usaha Milik Aceh). CSR itu seharusnya kembali ke masyarakat Aceh, bukan dipakai untuk membiayai acara universitas di Jakarta,” ujar seorang akademisi yang enggan disebut namanya ketika dihubungi, Kamis, 4 September 2025.
Sebagaimana diketahui, PEMA dibentuk untuk mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Aceh. Karena itu, aliran dana CSR ke universitas di luar daerah dinilai bertolak belakang dengan visi-misi pemerintahan Aceh di bawah kepemimpinan Gubernur Muzakir Manaf (Mualem) dan wakilnya, Fadhlullah (Dek Fadh).
Hingga berita ini ditayangkan, redaksi ORINEWS.id masih berupaya menghubungi Direktur Utama PEMA, Mawardi Nur, untuk meminta klarifikasi terkait keabsahan dokumen serta dugaan aliran dana CSR ke Universitas Trisakti. Namun, upaya tersebut belum mendapat tanggapan. [red]

































