TERBARU

InternasionalNews

Trump Ingin Kerahkan Pasukan Swasta AS ke Ukraina, Eropa Jadi Penjamin

ORINEWS.id – Presiden AS Donald Trump sedang menjajaki pengerahan kontraktor militer swasta Amerika Serikat ke Ukraina sebagai bagian dari usulan rencana perdamaian. Informasi ini dilaporkan secara eksklusif oleh media Inggris, The Telegraph.

Mengutip Al Mayadeen, Minggu (31/8/2025), rencana ini berupaya menyeimbangkan janji kampanye Trump untuk menghindari pengerahan pasukan AS secara berkala. Pada saat yang sama, rencana ini juga memastikan keterlibatan Amerika dalam perjanjian gencatan senjata di masa mendatang dengan Rusia.

Menurut The Telegraph, perusahaan militer swasta Amerika dapat memainkan peran sentral dalam kerangka keamanan Ukraina pascaperang. Kontraktor-kontraktor ini akan ditugaskan untuk membangun benteng, membangun pangkalan, dan melindungi kepentingan bisnis AS, serupa dengan strategi yang digunakan di Irak dan Afghanistan.

Seorang sumber di Whitehall, Inggris, mengatakan kepada The Telegraph bahwa penempatan kontraktor swasta “menempatkan ‘pasukan’ Amerika, yaitu pemegang paspor Amerika, di lapangan, yang kemudian secara efektif menjadi penghalang bagi Putin.”

Kerangka Keamanan Berlapis

Rencana perdamaian yang diajukan Trump ini bertujuan untuk memperkuat angkatan bersenjata Ukraina sebagai garis pertahanan utama jika terjadi perang dengan Rusia di masa mendatang. Pasukan Ukraina akan mempertahankan posisi perbatasan yang diperkuat dengan pelatihan dan dukungan logistik dari sekutu NATO.

Baca Juga
Viral Video Warga Dukung UU TNI, Diduga untuk Dapatkan Bingkisan Gratis

Ukraina juga diperkirakan akan terus membeli sistem pertahanan AS seperti baterai pertahanan udara Patriot dan peluncur HIMARS, dengan sekutu Eropa menanggung biayanya. Hal ini akan memastikan penjualan senjata Amerika yang berkelanjutan sambil mengalihkan tanggung jawab keuangan ke Eropa

Peran Penjaga Perdamaian Eropa

Para pejabat Eropa mengatakan rencana tersebut juga mempertimbangkan pasukan penjamin yang dipimpin Eropa di wilayah Ukraina yang lebih dalam. Meski proposal awal membahas 30.000 tentara, jumlah ini telah dikurangi agar tidak terkesan “terlalu kuat” terhadap Rusia. Negara-negara termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Belgia, dan negara-negara Baltik telah menyatakan minatnya.

Diskusi juga melibatkan kemungkinan zona penyangga demiliterisasi. Ukraina dilaporkan lebih menyukai pasukan Eropa di zona tersebut, sementara Moskow telah mengajukan Tiongkok sebagai penjamin. Namun, usulan Trump untuk melibatkan pasukan penjaga perdamaian Tiongkok mendapat penolakan keras dari Eropa dan Ukraina.

Operasi Udara dan Laut

Sekutu Eropa sedang mempertimbangkan zona larangan terbang bertahap yang dimulai dengan kota-kota di Ukraina barat, seperti Lvov. Zona ini akan diperluas ke arah timur seiring meningkatnya kepercayaan terhadap gencatan senjata.

Baca Juga
Benang Kusut dan Hanky-Panky di Bank Aceh, Akademis Ini Ingatkan Jangan Campur Aduk Urusan Politik dan Ekonomi

Di Laut Hitam, Turki diperkirakan akan memimpin misi angkatan laut untuk mengamankan jalur pelayaran, yang didukung oleh Bulgaria dan Rumania. Prioritasnya adalah membuka kembali ekspor Ukraina dan membersihkan ranjau dari rute-rute maritim utama.

Kepentingan Ekonomi di Balik Rencana

The Telegraph melaporkan bahwa akar dari rencana perdamaian ini berasal dari kepentingan ekonomi Washington, khususnya akses mineral langka. Sebelumnya, Trump menawarkan insentif ekonomi kepada Putin pada pertemuan puncak Alaska, termasuk keringanan sanksi dan potensi kesepakatan energi, tetapi proposal ini ditarik karena keengganan Moskow untuk menyetujui gencatan senjata.

Terlepas dari rintangan-rintangan ini, para perencana Eropa telah mempercepat persiapan setelah Trump mengisyaratkan bahwa Putin mungkin terbuka terhadap jaminan keamanan. Rincian akhir paket tersebut dapat diumumkan paling cepat akhir pekan ini, menurut The Telegraph.

Laporan The Telegraph menggarisbawahi bahwa rencana perdamaian Ukraina Trump, yang dibangun di atas kontraktor militer swasta, pasukan penjaga perdamaian Eropa, dan insentif ekonomi, dapat menandai salah satu misi luar negeri AS yang paling ambisius sejak Irak dan Afghanistan. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks