ORINEWS.id – Sejumlah tokoh politik dan keamanan Israel memperingatkan potensi kegagalan dalam perang Gaza yang masih berlangsung. Mereka mendesak agar segera dilakukan gencatan senjata serta kesepakatan pembebasan tawanan, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap mendorong rencananya untuk menginvasi dan menduduki Kota Gaza.
Mengutip almayadeen.net, Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, menilai perang di Gaza telah berubah menjadi bumerang bagi negaranya. Ia menyebut perang itu sebagai “Afghanistan-nya Israel.”
“Kesepakatan gencatan senjata di Gaza merupakan kepentingan Israel,” kata Lapid dalam wawancara dengan Channel 12.
Ia menambahkan, “Kami tidak ingin hal ini terjadi pada tentara Israel,” sambil mengenang kekalahan pasukan Amerika Serikat yang melarikan diri dari Afghanistan.
Lapid juga mengakui pemerintah Israel gagal mengalahkan perlawanan Palestina.
“Setelah satu tahun sepuluh bulan, pemerintah ini tidak berhasil mengalahkan Hamas,” ujarnya.
Gantz Desak Pemerintahan untuk Bebaskan Tawanan
Ketua Partai Biru Putih – Persatuan Nasional, Benny Gantz, menyerukan pembentukan pemerintahan sementara guna fokus pada penyelamatan sandera yang ditahan Hamas di Gaza. Ia mengajak Netanyahu, Lapid, serta Ketua Yisrael Beytenu Avigdor Liberman untuk bersatu dalam pemerintahan enam bulan sebelum pemilu baru.
“Para sandera berada dalam bahaya besar dan saudara-saudara kita terpuruk di bawah beban ini,” kata Gantz.
“Tidak seperti mesin racun, saya tidak ingin menyelamatkan Netanyahu, tetapi menyelamatkan para sandera.”
Menurutnya, pemerintahan sementara itu juga dapat mendorong undang-undang untuk mengatasi masalah perekrutan kelompok ultra-Ortodoks ke dalam militer.

Respons Yisrael Beytenu
Menanggapi ajakan Gantz, Partai Yisrael Beytenu menegaskan tidak akan terlibat dalam politik manipulatif.
“Yisrael Beytenu menyerukan agar semua sandera dikembalikan sekarang, tanpa syarat,” kata partai itu dalam pernyataannya.
“Satu-satunya pemerintahan yang akan kami ikuti adalah pemerintahan Zionis yang menyeluruh, dan kami tidak akan terlibat dalam manipulasi apa pun.”
Israel Akan “Membayar Dua Kali Lipat” Jika Menduduki Gaza
Giora Eiland, mantan kepala Dewan Keamanan Nasional Israel, memperingatkan risiko besar jika pemerintah menduduki Gaza. Menurutnya, gagasan untuk memisahkan Hamas dari penduduk Gaza adalah keliru.
“Gaza adalah Hamas dan Hamas adalah Gaza,” ujarnya kepada Channel 12.
Eiland menilai, menduduki Gaza dengan penduduk yang memusuhi Israel hanya akan menimbulkan masalah baru. “Anda belum menyelesaikan masalah, Anda telah menciptakan masalah,” katanya.
Ia menambahkan, jika pendudukan dilakukan, dunia akan menuntut Israel bertanggung jawab penuh terhadap warga Gaza.
“Anda sekarang bertanggung jawab; Anda harus membayar dan merawat penduduknya,” ujarnya.
Hamas Tak Bisa Dibasmi Total
Saluran 13 Israel juga menyoroti kebuntuan perang Gaza. Setelah hampir dua tahun pertempuran, Hamas disebut masih memiliki puluhan ribu pejuang.
Media itu mengakui mustahil membasmi seluruh anggota Hamas. Bahkan ketika tuntutan itu datang dari Presiden AS Donald Trump sekalipun, “Para pejuang Hamas tidak takut mati,” demikian laporan Channel 13. []


































