ORINEWS.id – Jaringan Dokter Sudan melaporkan setidaknya 46 orang meninggal dunia akibat malnutrisi di negara bagian Kordofan Selatan, Sudan, dalam dua bulan terakhir. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Mengutip Almayadeen.net, laporan yang dirilis pada 23 Agustus 2025 itu juga menyebut lebih dari 19.000 ibu hamil dan menyusui sangat membutuhkan nutrisi tambahan. Para dokter dan petugas bantuan memperingatkan bahwa kekurangan makanan dan obat-obatan paling parah menimpa kelompok rentan tersebut.
Malnutrisi, kata jaringan itu, menyebabkan bayi baru lahir kekurangan berat badan dan memperlemah kondisi ibu yang tidak mendapat gizi cukup.
“Kelaparan yang disengaja digunakan sebagai taktik militer. Itu merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang menurut hukum internasional,” kecam Jaringan Dokter Sudan itu.
Mereka menuduh Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) melakukan pengepungan terhadap warga sipil di Kordofan Selatan, khususnya di kota Kadugli dan Dalanj, sehingga akses terhadap makanan dan obat-obatan terhambat.
Jaringan itu mendesak organisasi lokal dan internasional, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk segera melakukan intervensi. Mereka menyerukan pembukaan koridor kemanusiaan yang aman agar pengiriman bantuan pangan dan medis bisa dilakukan tanpa hambatan.
Dampak Konflik Sudan yang Lebih Luas
Konflik di Sudan pecah sejak April 2023 antara tentara Sudan dan RSF. Pertempuran telah menghancurkan negara itu dan menimbulkan dampak kemanusiaan masif. Data resmi PBB mencatat lebih dari 20 ribu kematian dan lebih dari 14 juta orang terpaksa mengungsi.
Namun, penelitian independen memperkirakan jumlah korban jauh lebih tinggi, bahkan mencapai 130 ribu jiwa. PBB juga memperingatkan bahwa 3,2 juta anak balita di Sudan berisiko menderita malnutrisi akut tahun mendatang.
Program Pangan Dunia (WFP) menyebut konflik Sudan telah “menciptakan krisis kelaparan terbesar di dunia.” Sekitar 25 juta orang saat ini menghadapi kelaparan akut akibat pengepungan, pengungsian massal, dan runtuhnya infrastruktur dasar. []


































