ORINEWS.id – Puluhan ribu orang turun ke jalan di London untuk mengecam kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Inggris. Mereka menentang dukungan Trump terhadap perang di Gaza serta kebijakan ekonomi dan sosialnya.
Menurut laporan koresponden Al Mayadeen pada Rabu, demonstrasi berlangsung selama dua hari dan diikuti berbagai lapisan masyarakat Inggris. Protes juga digelar di depan Kastil Windsor, kediaman kerajaan. Para demonstran membawa spanduk yang menolak pandangan anti-imigran Trump serta memproyeksikan foto presiden AS itu bersama Jeffrey Epstein.
Aksi tersebut diserukan oleh koalisi Stop Trump. Salah satu demonstran yang diwawancarai AFP mengatakan, “Saya belum pernah berpartisipasi dalam protes seumur hidup saya, tetapi saya ingin menyatakan penolakan saya terhadap Trump.”
Starmer Umumkan Investasi saat Kunjungan Trump
Kunjungan Trump dimanfaatkan oleh Perdana Menteri Keir Starmer yang tengah menghadapi tekanan ekonomi dan krisis politik. AFP melaporkan, pemerintah Inggris mengumumkan kesepakatan investasi besar senilai US$ 30 miliar dari raksasa teknologi Microsoft.
Sementara itu, perusahaan farmasi Inggris GSK juga mengumumkan rencana investasi lima tahun sebesar US$ 30 miliar yang sebagian besar dialokasikan untuk riset dan pengembangan di Amerika Serikat.
Namun, menurut Financial Times, Starmer membatalkan upayanya mendapatkan pengecualian tarif 25 persen untuk baja Inggris dari Trump—sebuah janji yang sempat ia lontarkan pada Mei lalu.
Protes Serupa terhadap Kunjungan Presiden Israel
Gelombang protes terhadap tokoh internasional bukan hal baru di Inggris. Pada 10 September lalu, ribuan orang menggelar aksi di luar Downing Street saat Presiden Israel Isaac Herzog melakukan kunjungan tiga hari ke London. Massa mengibarkan bendera Palestina dan mendesak pemerintah Inggris mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Herzog yang mereka sebut sebagai “presiden genosida.”
Kelompok kampanye Sahabat Al-Aqsa secara resmi meminta penuntutan umum Inggris menerbitkan surat penangkapan, dengan menilai pernyataan dan tindakan Herzog pada Oktober 2023 berpotensi mengarah pada hasutan, kejahatan perang, atau genosida.
Sejumlah anggota parlemen dari Partai Buruh dan independen juga menyampaikan kekhawatiran bahwa kunjungan Herzog dapat menandakan ketidakpedulian Inggris terhadap hukum internasional. Partai Hijau bahkan lebih keras menentangnya. Pemimpin mereka, Zack Polanski, menyebut Herzog sebagai “calon penjahat perang” dan menuduhnya terlibat dalam “genosida yang sedang berlangsung di Gaza.” []
































