ORINEWS.id – Tim mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) menghadirkan solusi konkret bagi ketahanan infrastruktur di daerah rawan bencana. Melalui “Program Mahasiswa Berdampak”, mereka menginisiasi proyek bertajuk BANGKIT (Basis Alternatif Nir-emisi Guna Ketahanan Infrastruktur Terbarukan) untuk mentransformasi Desa Mesjid Tuha, Kecamatan Meureudu, menjadi percontohan Smart Village berbasis energi terbarukan.
Kolaborasi strategis antara akademisi USK dan Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya ini dirancang secara holistik untuk menjamin ketersediaan energi dan air bersih, sekaligus memulihkan roda ekonomi warga pascabencana hidrometeorologi.
Ketua Tim Mahasiswa Berdampak USK, Yuraddin, menjelaskan bahwa keberhasilan proyek ini bertumpu pada integrasi teknologi tepat guna, yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat desa.
“Salah satu terobosan utamanya adalah pengadaan sistem filtrasi Reverse Osmosis (RO) yang sepenuhnya ditenagai oleh panel surya untuk menjamin kemandirian air bersih,” ungkap Yuraddin dalam keterangannya, Jumat (6/3).
Ia menjelaskan, kecanggihan sistem ini diperkuat dengan integrasi sensor Internet of Things (IoT) yang terhubung langsung ke situs web desa, sehingga Pemuda Gampong dapat memantau cadangan dan kualitas air secara real-time.Di sisi lain, tim juga fokus pada mitigasi krisis kelistrikan melalui inspeksi dan edukasi keamanan instalasi kabel di hunian warga guna menekan risiko korsleting pascabencana.
Tak berhenti pada infrastruktur fisik, program ini turut menyasar aspek pemberdayaan melalui transformasi digital UMKM dengan memberikan pelatihan upskilling pemasaran daring bagi kelompok ibu-ibu PKK agar produk lokal desa mampu bersaing di pasar digital. Upaya pemulihan ini kemudian ditutup dengan aksi restorasi hunian melalui gotong royong massal untuk memastikan seluruh area pemukiman kembali aman, bersih, dan layak huni bagi masyarakat.
“Kami ingin membuktikan bahwa teknologi seperti panel surya dan IoT bukan sekadar teori kampus, tapi bisa menyelamatkan fasilitas vital desa saat krisis terjadi. Ini adalah langkah nyata dari Aceh untuk infrastruktur berkelanjutan,” tegas Yuraddin.
Kehadiran teknologi ini disambut antusias oleh otoritas setempat. Keuchik Gampong Mesjid Tuha, Dedy Kuesnedy, S.H., menyampaikan rasa terima kasih atas sinergi ide dan tenaga yang dibawa mahasiswa USK.
“Pascabencana, kami sangat membutuhkan sentuhan inovasi seperti ini. Kehadiran adik-adik mahasiswa membangkitkan kembali semangat warga untuk pulih,” bebernya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Kominfotik Kabupaten Pidie Jaya, Saifuddin ZA, saat meninjau langsung implementasi teknologi di lapangan, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan visi daerah dalam membangun desa cerdas.
“Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya sangat mengapresiasi terobosan ini. Kolaborasi pemanfaatan energi terbarukan dan digitalisasi ini adalah kunci membangun desa yang tangguh bencana. Kami berharap Desa Mesjid Tuha menjadi blueprint atau contoh bagi gampong-gampong lainnya,” ujarnya.
Melalui integrasi teknologi tinggi dan kolaborasi solid antara USK, warga desa, dan Pemkab Pidie Jaya, inisiatif BANGKIT diharapkan menjadi model nasional dalam melahirkan desa-desa tangguh bencana yang mandiri secara energi dan ekonomi. []



































































