Sehat

Kasus Campak Masih Tinggi, Dokter Anak Minta Orang Tua Lengkapi Imunisasi

ORINEWS.id – Dokter spesialis anak konsultan infeksi dan penyakit tropis, Prof dr Anggraini Alam, menekankan pentingnya imunisasi campak lengkap bagi anak-anak. Menurutnya, pemberian vaksin campak perlu dilakukan sebanyak tiga kali untuk memastikan antibodi terbentuk optimal.

“Jadi tiga kali pemberian imunisasi campak. Mengapa kok berulang-ulang? Karena ini untuk melemahkan virus, tentunya membutuhkan dosis telt dan berulang agar antibodi bisa tinggi sehingga tidak terkena campak,” kata Prof Anggraini dalam diskusi virtual pada Sabtu (28/2/2026), seperti dilansir republika.

Prof Anggaraini turut menanggapi mitos yang beredar terkait vaksin, seperti klaim bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme. Menurutnya, klaim ini sudah usang dan tidak memiliki dasar ilmiah.

“Sudah ada empat studi besar yang melibatkan hingga 23 juta anak, termasuk penelitian di Denmark dengan 500 ribu hingga 1,25 juta anak. Semua menunjukkan tidak ada hubungan antara vaksin campak dengan autisme. Mitos ini berasal dari penelitian tahun 1998 yang sudah ditarik kembali,” kata dia.

Ia juga membantah anggapan sebagian masyarakat yang enggan divaksin dan hanya mengandalkan kekebalan alami. Prof Anggraini mengingatkan bahwa komplikasi campak bisa sangat berat bahkan bisa menyebabkan kematian.

“Kalau ada yang bilang nggak mau divaksin, waduh kan tahu sendiri ya komplikasi campak itu serius sekali. Jadi paling aman ya lengkapi imunisasi campak,” ujar Prof Anggraini.

Dia mengungkapkan risiko imunisasi yang tidak lengkap, termasuk immun amnesia. Kondisi ini membuat anak kehilangan kekebalan terhadap berbagai penyakit setelah terkena campak, sehingga lebih rentan terserang penyakit lain seperti pertusis, difteri, dan pneumonia.

“Campak itu seperti host, yang bisa membuka pintu bagi penyakit lain untuk menyerang. Jadi kalau anak sudah campak, maka dia pun berisiko tinggi terkena penyakit lain,” ujar Prof Anggraini.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jabar tersebut mendorong orang tua untuk memastikan imunisasi anak lengkap, terutama sebelum anak masuk PAUD dan SD. Menurut dia, imunisasi campak sebelum masuk sekolah sangat krusial karena anak yang terlindungi akan mengurangi risiko penularan ke teman-temannya.

Baca Juga
Kenali Perbedaan Rubella dan Campak

“Sebelum masuk PAUD ya imunisasi, lanjut sebelum SD. Ayo dong kalau terlewat dikejar, jangan satu vaksin campak saja. Risiko terpaparnya masing tinggi. Jadi ayo imunisasi yang lengkap,” kata dia.

la mengatakan imunisasi campak telah tersedia di Puskesmas dan tidak dipungut biaya alias gratis. Prof Anggraini menekankan bahwa vaksin lengkap sangat krusial dalam mencegah campak.

“Apalagi campak itu belum ada obatnya. Selama ini pengobatannya masih suportif, jadi lebih baik mencegah daripada mengobati,” kata dia.

Dia mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap campak sebagai penyakit ringan. Pasalnya, campak bisa menimbulkan komplikasi serius bahkan berpotensi mengancam nyawa anak.

“Campak tidak hanya menimbulkan ruam dan demam. Infeksi ini dapat memicu berbagai komplikasi pada anak,” kata Prof Anggraini.

Data menunjukkan bahwa 7-9 dari 100 anak penderita campak mengalami infeksi telinga yang dapat merusak gendang telinga. Jika kerusakan ini permanen, kata Prof Anggraini, anak bisa kehilangan kemampuan pendengaran.

Selain itu, 8 dari 100 anak mengalami diare, yang jika menyebabkan dehidrasi parah bisa berakibat fatal. Pneumonia juga menjadi komplikasi utama, terjadi pada 1-6 dari 100 pasien campak. Bahkan, 86 persen kematian akibat campak disebabkan oleh pneumonia.

“Ada anak-anak yang sampai harus masuk ke ventilator karena paru-parunya terinfeksi virus campak. Jadi memang campak itu komplikasinya tidak main-main,” kata dia.

Baca Juga
Plt Kadinkes Aceh Besar Luncurkan Desa SeHATi, Dorong Budaya Hidup Sehat Masyarakat

Dia menjelaskan, komplikasi campak yang lebih serius, termasuk ensefalitis akut atau pembengkakan otak yang terjadi pada 1 dari 1.000 pasien. Kondisi ini dapat menimbulkan kejang, kebutaan, atau gangguan mental permanen.

Virus campak juga memengaruhi kesehatan mata, terutama pada anak-anak malnutrisi dengan kekurangan vitamin A. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan kornea dan risiko kebutaan.

“Di Indonesia, kita harus bersyukur karena setiap Februari dan Agustus, balita mendapatkan suplementasi vitamin A. Ini mencegah anak-anak Indonesia mengalami kebutaan akibat campak, berbeda dengan di India yang masih banyak ditemukan kasus kebutaan,” jelas Prof Anggraini.

Selain komplikasi langsung, campak dapat melemahkan daya tahan tubuh anak dalam jangka panjang melalui fenomena yang disebut immunological amnesia. Virus campak menyerang sistem imun dan ‘menghapus’ memori tubuh terhadap infeksi sebelumnya.

Akibatnya, anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit lain beberapa bulan hingga bertahun-tahun setelah sembuh dari campak, terutama bagi anak yang gizi buruk, belum dimunisasi, atau memiliki kondisi medis tertentu.

“Sel-sel imun yang biasanya melawan berbagai penyakit ikut habis ketika tubuh melawan virus campak. Penggantinya butuh waktu untuk kembali aktif, sementara kemampuan anak untuk melawan penyakit lain menurun. Ini membuat risiko infeksi lain meningkat,” ujarnya.

Dokter Anggraini menekankan pentingnya imunisasi sebagai langkah pencegahan utama. “Imunisasi lengkap dan pemberian vitamin A rutin dapat melindungi anak dari komplikasi berat campak, Jangan anggap remeh penyakit ini,” kata dia.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian. Bahkan di Sumenep, pada 2025 sebanyak 20 anak meninggal dunia akibat campak. []

Harian Aceh Indonesia
Geser »

Imsakiyah Ramadhan 1447 H

Kota Banda Aceh & Sekitarnya

Harian Aceh Indonesia
Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh
TanggalImsakSubuhDzuhurAsharMaghribIsya
Memuat data resmi...

Komentari!

Artikel Terkait

Enable Notifications OK No thanks