TERBARU

Lingkungan

Warga Simeulue Tewas Diterkam Buaya, FJL Aceh Desak Pemerintah Serius Tangani Konflik Satwa

‎ORINEWS.id – Seorang warga Desa Bulu Hadek, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue, Aceh, Jusmitawati (36), meninggal dunia setelah diterkam buaya saat mencari kerang di Sungai Luan Boya, Minggu (16/2/2026).

Korban diketahui menyusuri sungai bersama dua rekannya. Di tengah aktivitas tersebut, Jusmitawati tiba-tiba menghilang. Warga sempat melakukan pencarian, hingga akhirnya korban ditemukan masih berada di rahang buaya yang muncul ke permukaan sungai.

Video kejadian tersebut beredar luas di masyarakat dan memicu ketakutan sekaligus kemarahan warga. Peristiwa ini menambah daftar korban konflik manusia dengan satwa liar, khususnya buaya muara, yang habitatnya semakin sering bersinggungan dengan ruang hidup masyarakat.

Advertisements
BANK ACEH - HPN 2026

Menanggapi kejadian itu, Kepala Departemen Advokasi Forum Jurnalis Lingkungan Aceh (FJL Aceh), Hidayatullah, menilai tragedi tersebut sebagai alarm serius atas lemahnya penanganan konflik satwa di Aceh.

Baca Juga
Wagub Aceh: Green Policing Tonggak Penting Cegah Tambang Ilegal

“Ini bukan kejadian pertama adanya korban manusia dari konflik satwa di Aceh, artinya ada masalah serius dalam tata kelola wilayah dan mitigasi konflik satwa. Kalau pemerintah hanya terus mengimbau warga menjauh dari sungai, lalu di mana solusi jangka panjangnya?” kata Dayat, sapaan Hidayatullah, Selasa (17/2/2026).

Ia menilai negara seolah melempar tanggung jawab kepada masyarakat, sementara akar persoalan seperti kerusakan habitat, perubahan ekosistem, serta ketiadaan peta wilayah rawan konflik belum ditangani secara serius.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Simeulue, Carles, mengatakan langkah sementara yang dilakukan pemerintah adalah mengimbau warga untuk menghindari aktivitas di perairan yang diduga menjadi habitat buaya.

“Kami meminta warga untuk sementara tidak beraktivitas di sungai, muara, atau danau yang terindikasi habitat buaya, seperti mandi, berenang, dan mencuci,” ujarnya.

Pemerintah daerah juga meminta warga meningkatkan kewaspadaan, menjaga kebersihan sungai, serta tidak membuang sisa makanan ke perairan karena dapat menarik buaya mendekat. Selain itu, pemasangan papan peringatan bahaya buaya juga didorong di sejumlah titik.

Baca Juga
Aceh Mulai Musim Kemarau, BMKG: Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan

Namun FJL Aceh menilai imbauan saja tidak cukup. Mereka mendesak adanya kajian ilmiah, patroli rutin, relokasi satwa berbasis konservasi, serta perlindungan nyata bagi warga yang menggantungkan hidup pada sungai.

“Manusia dan satwa harus bisa hidup berdampingan dengan aman. Tapi itu hanya bisa terjadi jika pemerintah hadir secara nyata, bukan sekadar memberi larangan,” kata Dayat.

Tragedi tersebut menjadi pengingat bahwa konflik manusia dan satwa liar di Aceh masih memerlukan penanganan serius agar tidak terus menimbulkan korban jiwa. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks