ORINEWS.id – Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, kembali mendesak aksi internasional untuk menekan Israel menghentikan agresi militer dan mencabut blokade yang diberlakukan di Jalur Gaza. Seruan ini disampaikan dalam pernyataan resmi pada Senin, di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan di wilayah yang telah dilanda konflik berkepanjangan.
Dikutip dari Al Mayadeen, Senin (17/11/2025), Hamas meminta bangsa-bangsa Arab dan komunitas global untuk meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Israel serta para sekutu pendukungnya. Mereka menilai situasi kemanusiaan di Gaza telah mencapai titik kritis, sehingga membutuhkan intervensi segera demi menyelamatkan warga sipil dan memfasilitasi masuknya bantuan vital, termasuk tenda serta tempat penampungan sementara.
Gerakan tersebut menggambarkan kondisi hidup warga Gaza sebagai “mengerikan”, akibat lebih dari dua tahun perang yang telah merusak berbagai sektor kehidupan. Kekurangan makanan, obat-obatan, air bersih, dan tempat tinggal diperparah oleh runtuhnya sistem kesehatan, menjadikan perempuan dan anak-anak kelompok yang paling rentan menjelang musim dingin.
Desakan Pembukaan Penyeberangan Rafah
Dalam pernyataannya, Hamas menuding Israel melanggar perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak 11 Oktober, termasuk melalui peningkatan serangan terhadap warga sipil serta penutupan penyeberangan yang menghambat operasi kemanusiaan. Selama periode gencatan senjata tersebut, sedikitnya 266 orang dilaporkan tewas akibat tembakan Israel dan 635 lainnya luka-luka.
Hamas meminta negara-negara penjamin kesepakatan untuk menekan Israel membuka seluruh jalur penyeberangan, terutama Rafah, agar bantuan medis dan kemanusiaan dapat masuk. Pembukaan penyeberangan juga dinilai penting bagi evakuasi pasien serta pergerakan individu yang selama ini terhambat.
Dampak Blokade terhadap Pasien
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Minggu melaporkan lebih dari 900 pasien di Gaza meninggal karena terlambat dievakuasi akibat pembatasan Israel. WHO menyebut masih ada sekitar 16.500 pasien yang menunggu izin keluar untuk mendapatkan perawatan, termasuk 4.000 anak dalam kondisi kritis.
Hamas menilai kebuntuan internasional dalam merespons krisis Gaza turut memperburuk penderitaan dua juta lebih warga Palestina yang tetap terperangkap di bawah blokade. Mereka kembali menyerukan mobilisasi global untuk menghentikan pengepungan dan menjamin perlindungan serta martabat warga sipil. []



































