ORINEWS.id – Alat penyadap yang disembunyikan di balik Lambang Negara Amerika Serikat (AS) menjadi bagian dari operasi intelijen Soviet paling cerdik selama Perang Dingin. Alat itu terpasang di rumah dinas Duta Besar AS di Moskwa selama tujuh tahun tanpa terdeteksi.
Peristiwa ini bermula pada 1945, ketika sekelompok pramuka Soviet memberikan hadiah berupa Lambang Negara AS yang diukir dari kayu mapel kepada Duta Besar AS, W. Averell Harriman. Hadiah itu diberikan menjelang akhir Perang Dunia Kedua sebagai simbol kerja sama antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.
Harriman, tanpa mencurigai apa pun, langsung memajang lambang tersebut di kediaman resminya, Spaso House, di Moskwa. Ia baru mengetahui tujuh tahun kemudian bahwa di dalamnya tertanam perangkat penyadap canggih, yang kemudian dikenal sebagai The Thing.
Cara kerja The Thing
The Thing bukan alat sadap biasa. Perangkat ini dirancang tanpa baterai, sirkuit elektronik, atau sumber panas, sehingga sulit terdeteksi oleh alat pemindai keamanan yang digunakan saat itu.
John Little, spesialis kontra-pengawasan asal Inggris yang kini berusia 79 tahun, menggambarkan alat itu sebagai tabung seperti pipa organ dengan membran mirip kulit drum, yang akan bergetar mengikuti suara manusia.
“Rekayasa alat ini seperti perpaduan antara jam tangan Swiss dan mikrometer,” kata Little dalam film dokumenter yang dirilis tahun ini, dikutip dari BBC (27/8/2025). Film tersebut sempat tayang perdana pada Mei lalu dan kembali diputar di Museum Nasional Komputer di Bletchley Park, Inggris, 27 September 2025.
Menurut Little, bentuk alat ini kecil dan menyerupai peniti topi, sehingga tampak seperti benda dekoratif biasa. The Thing bekerja menggunakan teknologi pasif. Alat ini hanya aktif jika menerima sinyal frekuensi tinggi dari transceiver jarak jauh, biasanya dipancarkan dari gedung terdekat. Ketika sinyal itu dikirim, antena dalam alat akan memantulkan getaran suara di ruangan tersebut kembali ke penerima.
Rahasia keberadaan The Thing akhirnya terbongkar secara tidak sengaja pada 1951. Saat itu, operator radio militer Inggris di Moskwa menyetel gelombang radio ke frekuensi yang sama dengan yang digunakan alat tersebut dan, tanpa sengaja, mendengar percakapan dari dalam Spaso House.
Pihak keamanan AS kemudian melakukan pencarian intensif di rumah dubes. Setelah tiga hari, mereka menemukan bahwa Lambang Negara buatan tangan itu ternyata alat penyadap Soviet yang sangat canggih.
Penemuan The Thing menjadi simbol bagaimana karya seni bisa menjadi alat penyamaran yang efektif dalam operasi spionase. Sejarawan intelijen H. Keith Melton menyebut alat ini “meningkatkan ilmu pemantauan audio ke tingkat yang sebelumnya dianggap mustahil”.
Vadim Goncharov, salah satu teknisi Rusia yang terlibat dalam pengoperasian alat tersebut, mengakui bahwa informasi yang dikumpulkan The Thing sangat bernilai bagi kepentingan Soviet pada masa awal Perang Dingin.
“Untuk waktu yang lama, negara kami mampu memperoleh informasi spesifik dan sangat penting yang memberi kami keuntungan tertentu,” ujar Goncharov dalam sebuah wawancara.
Hingga kini, tidak diketahui secara pasti berapa banyak alat serupa yang mungkin telah digunakan oleh Uni Soviet untuk memata-matai negara-negara Barat melalui benda-benda seni atau dekorasi lainnya.
Sosok pembuat The Thing
The Thing dirancang oleh Lev Sergeyevich Termen, penemu instrumen musik elektronik pertama di dunia, theremin. Ia adalah musisi dan ilmuwan kelahiran Rusia, pencipta alat musik yang dapat dimainkan tanpa disentuh. Suara theremin kemudian menjadi ciri khas film-film fiksi ilmiah Hollywood era 1950-an, seperti The Day the Earth Stood Still.
Bakat musikal Termen memengaruhi desain The Thing, yang bekerja dengan prinsip resonansi dan getaran suara. Setelah ditemukan, keberadaan The Thing dirahasiakan oleh pihak intelijen AS selama hampir satu dekade. Baru pada 1960, setelah pesawat mata-mata AS U-2 ditembak jatuh di wilayah udara Soviet, Amerika membuka rahasia alat tersebut dalam sidang Dewan Keamanan PBB untuk menunjukkan bahwa praktik spionase tidak hanya dilakukan oleh satu pihak.
John Little meyakini, “Dibutuhkan insiden sebesar penembakan pesawat mata-mata agar AS bersedia mengakui keberadaan The Thing ke publik.”
Meski begitu, detail teknis perangkat tersebut tetap menjadi rahasia negara sampai Peter Wright, mantan petugas kontra-intelijen Inggris, mengungkapkan semuanya dalam memoarnya, Spycatcher, pada 1987. [source:BBC]
































