ORINEWS.id – Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam dan Dai Dinas Syariat Islam Aceh, Ustaz Dr. Fikri bin Sulaiman Ismail, mengajak umat Islam memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum memperdalam pemahaman agama sekaligus membentuk karakter yang lebih baik. Hal itu ia sampaikan dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Selasa, 24 Februari 2026.
Menurut Fikri, Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai bulan ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan kualitas pemahaman keagamaan. Ia menilai penting bagi setiap Muslim memahami tujuan dari setiap perintah dan larangan dalam Islam agar pengamalan ajaran agama dilakukan secara sadar.
“Kalau kita memahami tujuan mengapa diperintahkan ini dan dilarang itu, maka kita akan lebih menghayati ajaran agama dan mengamalkannya dengan sadar,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penghayatan terhadap nilai-nilai Al-Qur’an menjadi kunci agar Ramadhan membawa perubahan nyata, baik secara pribadi, dalam keluarga, maupun di tengah masyarakat. Tanpa pemahaman yang mendalam, kata dia, Ramadhan bisa dijalani sekadar menahan lapar dan dahaga tanpa makna spiritual yang luas.
“Kalau tidak memahami nilai-nilainya, Ramadhan bisa terasa biasa saja. Padahal maknanya sangat dalam,” katanya.
Selain itu, Fikri mengingatkan pentingnya pengelolaan waktu selama Ramadhan. Menurutnya, meski hanya berlangsung satu bulan, pelajaran yang diperoleh seharusnya cukup menjadi bekal untuk diamalkan sepanjang tahun.
“Ramadhan itu berulang setiap tahun. Seharusnya, pelajaran satu bulan itu sudah cukup untuk membimbing kita di bulan-bulan berikutnya,” jelasnya.
Ia juga menyinggung keutamaan Lailatul Qadar sebagai puncak pembelajaran spiritual di bulan suci. Fikri mengibaratkan malam tersebut sebagai “ijazah tertinggi” dalam madrasah Ramadhan.
“Orang yang lulus dari madrasah Ramadhan, terutama jika meraih Lailatul Qadar, seharusnya menjadi pribadi yang lebih bijak dan tahu apa yang harus dilakukan setelahnya,” ujarnya.
Fikri berharap umat Islam tidak menjadikan Ramadhan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sarana pembinaan berkelanjutan untuk memperkuat ilmu, akhlak, dan ketakwaan. []









































































