TERBARU

InternasionalNews

Iran Minta Dialog Bebas Ancaman, AS Keluarkan Sanksi Baru Usai Perundingan

ORINEWS.id – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan setiap kesepakatan terkait program nuklir Iran hanya dapat dicapai melalui dialog yang “tenang” serta bebas dari tekanan dan ancaman. Pernyataan itu disampaikan Araghchi usai pembicaraan tidak langsung dengan Amerika Serikat yang dimediasi Oman pada Jumat (6/2).

Advertisements
DISKOMINSA - HPN 2026

Tak lama setelah pembicaraan tersebut berakhir, Washington justru mengumumkan sanksi baru terhadap Teheran. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan pembatasan terhadap 15 entitas, dua individu, dan 14 kapal yang dituduh terkait dengan “perdagangan ilegal minyak bumi Iran, produk minyak bumi, dan produk petrokimia.”

Araghchi menyambut dimulainya kembali dialog dengan Amerika Serikat setelah “delapan bulan yang penuh gejolak.” Ia menyebut negosiasi selama sekitar delapan jam di Muscat sebagai “awal yang baik.” Menurutnya, kedua pihak memiliki “konsensus” mengenai perlunya melanjutkan pembicaraan.

Baca Juga
Iran Terancam Dicoret dari Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia Bisa Jadi Pengganti?
Advertisements
BANK ACEH - HPN 2026

Beberapa saat setelah dialog berakhir, pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa sanksi baru tersebut merupakan bagian dari “kampanye tekanan maksimum” yang diluncurkan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Berbicara kepada wartawan pada Jumat, Araghchi mengatakan delegasi Iran “menegaskan” bahwa dialog apa pun harus terbebas dari ancaman maupun tekanan. Dalam unggahan di platform X, ia menambahkan Iran “memasuki diplomasi dengan mata terbuka dan ingatan yang teguh tentang tahun lalu.”

Menurut Araghchi, delapan bulan terakhir telah menciptakan suasana “ketidakpercayaan yang besar” yang perlu diatasi. Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak Amerika Serikat menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Situasi semakin memanas setelah gelombang protes anti-pemerintah melanda Iran pada Desember dan Januari. Teheran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, Washington juga mengerahkan armada militer yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat menuntut agar setiap kesepakatan potensial membatasi tingkat pengayaan uranium Iran serta program rudal balistiknya.

Baca Juga
Houthi Sambut Kemenangan Iran atas Israel dan AS

Araghchi menegaskan pembicaraan di Muscat hanya berfokus pada isu program nuklir. Iran, kata dia, tetap pada posisi bahwa program nuklirnya bersifat damai. Amerika Serikat sebelumnya secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 dan kembali memberlakukan sanksi, yang kemudian mendorong Teheran secara bertahap mengurangi kepatuhan dan meningkatkan pengayaan uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks