TERBARU

InternasionalNews

Iran Tak Mempan Digertak, AS Akhirnya Manut Berunding di Oman Batal di Turki

ORINEWS.id – Iran dan Amerika Serikat (AS) akhirnya sama-sama menyetujui untuk melanjutkan perundingan terkait nuklir di Muscat, Oman pada Jumat (6/2/2026). Perundingan dikonfirmasi oleh kedua belah pihak pada Rabu (4/2/2026) setelah sempat diwarnai ketidakpastian soal lokasi dan materi perundingan yang akan dinegosiasikan.

“Pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat dijadwalkan digelar pada di Muscat sekitar pukul 10 pagi pada Jumat. Saya berterima kasih kepada saudara kami di Oman yang mengatur semua hal yang dibutuhkan,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi lewat akun media sosialnya di X.

Advertisements
Ad 147

Sementara AS mengirim utusan khusus Steve Witkoff ke Oman untuk berunding dengan Araghchi. Presiden AS Donald Trump pun mengonfirmasi terjadinya perundingan dengan Iran.

“Mereka akan bernegosiasi,” ujar Trump menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Putih, kemarin.

Sebelumnya, media Axios pada Rabu (4/2/2026) melaporkan bahwa sempat terjadi ketegangan diplomatik antara AS dan Iran yang berujung pada peluang runtuhnya rencana perundingan pada Jumat. Jurnalis Axios, Barak Ravid mengutip pejabat AS mengungkap bahwa perundingan nuklir batal karena Iran menolak untuk membahas isu-isu diluar pengayaan uranium dan nuklir.

Menurut Ravid, Washington menginformasikan kepada Teheran bahwa mereka tidak akan menuruti kemauan Iran yang meminta perubahan lokasi perundingan dari sebelumnya dijadwalkan di Turki menjadi Oman. Iran juga menuntut negosiasi hanya sebatas masalah nuklir, tanpa membahas rudal balistik dan proxy-proxy Iran di kawasan.

Baca Juga
Jelang Pengesahan RUU TNI, Mahasiwa Trisakti Geruduk DPR hingga 'Sandera' Menteri Hukum

Pejabat AS kepada diplomat Iran ‘menggertak’, “Antara (dibahas juga hal-hal diluar nuklir) ini atau tidak”. Lalu direspons Iran dengan jawaban, “Ok, berarti tidak”.

Beberapa jam setelah laporan pertamanya, Axios kemudian menurunkan laporan yang mengonfirmasi perundingan nuklir antara AS dan Iran, yang awalnya direncanakan akan diadakan di Turki, kemudian diputuskan digelar di Oman.

“Pembicaraan nuklir antara AS dan Iran diperkirakan akan berlangsung di Oman pada Jumat,” kata koresponden Axios, Barak Ravid, melalui akun X mengutip sumber Arab.

Tidak hanya menolak perubahan lokasi dan penambahan materi perundingan, laporan menunjukkan bahwa Iran juga menolak partisipasi perwakilan dari Turki, Mesir, dan Qatar dalam perundingan tersebut. Iran hanya mau berunding secara langsung dengan AS.

Masih menurut laporan Axios, sedikitnya sembilan negara Timur Tengah mendesak pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menyetujui perundingan dengan Iran di Oman setelah Iran meminta perubahan tempat. Perundingan sempat berisiko gagal, tetapi negara-negara Arab meminta AS untuk tidak membatalkannya, sebut laporan itu yang mengutip dua pejabat AS yang mengetahui masalah tersebut.

Meski AS menyatakan skeptis terhadap perundingan tersebut, menurut laporan itu, pemerintahan Trump akhirnya menyetujui menggelar pertemuan tersebut untuk menghormati sekutu-sekutunya di kawasan itu dan mengupayakan penyelesaian diplomatik.

Sulit diprediksi

Hasil perundingan nuklir antara AS dan Iran akan sulit diprediksi, menurut seorang sumber Iran kepada RIA Novosti, Jumat (6/2/2026). Sumber itu menyebut “kerumitan situasi dan tindakan AS” adalah penyebab sulitnya memperkirakan hasil dialog dengan Iran tersebut.

“Kurangnya kepercayaan terhadap pihak AS adalah tantangan utama (perundingan), khususnya setelah langkah militer agresif yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran dalam pembicaraan sebelumnya di Muscat,” kata sumber tersebut.

Baca Juga
Iran Klaim Negosiasi dengan AS Berjalan, Trump Rahasiakan Tujuan Dialog

Menurut sumber, langkah agresif tersebut dinilai telah memperdalam jurang ketidakpercayaan dan secara signifikan meningkatkan tingkat kehati-hatian Iran. Pada Januari, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa sebuah “armada besar” sedang menuju Iran.

Ia menambahkan harapannya agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang adil dan setara, termasuk komitmen untuk sepenuhnya meninggalkan senjata nuklir. Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan “jauh lebih buruk” dibandingkan serangan sebelumnya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, negaranya masuk ke dalam gelanggang diplomasi dengan mata terbuka dan sebuah memori setahun terakhir. Araghchi menegaskan, Iran selalu terlibat dalam perundingan dengan niat baik dan keteguhan atas perlindungan hak-haknya.

“Komitmen harus dihargai. Berdiri setara, saling menghormati dan kesamaan kepentingan bukan retorika, adalah suatu keharusan dan pilar untuk sebuah kesepakatan yang bertahan lama,” kata Araghchi.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Rabu (4/2/2026) mengatakan campur tangan eksternal terhadap situasi di Iran membawa risiko ke seluruh kawasan. Sementara ia meyakini, penyelesaian diplomatik, termasuk masalah nuklir, tetap menjadi langkah yang paling dapat diterima.

“Kami percaya intervensi eksternal terhadap negara tetangga kami, Iran, adalah ancaman serius bagi seluruh kawasan, dan cara paling masuk akal untuk menyelesaikan masalah ini, termasuk masalah nuklir, adalah melalui diplomasi,” kata Erdogan dalam pernyataan pers usai perundingan di Mesir.

Turki secara konsisten menganjurkan dialog dan metode politik untuk menyelesaikan perselisihan, serta menekankan perlunya menghindari upaya yang dapat meningkatkan ketegangan di Timur Tengah, imbuhnya.[]

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks