ORINEWS.id – Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman (KBS) memperingatkan bahwa Iran berpotensi menjadi semakin kuat apabila Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak menindaklanjuti ancaman yang telah disampaikan terhadap Teheran.
Peringatan tersebut disampaikan KBS, yang dikenal sebagai orang kepercayaan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, dalam pembicaraan tertutup di Washington di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Informasi itu dilaporkan media Axios dan dikutip Antara, Sabtu, 31 Januari 2026.
Sikap tersebut dinilai mencerminkan perubahan nada publik Arab Saudi. Sebelumnya, Riyadh lebih menekankan kehati-hatian serta memperingatkan risiko eskalasi konflik apabila ketegangan dengan Iran berkembang menjadi konfrontasi terbuka.
Sekitar tiga pekan lalu, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dilaporkan sempat mendesak Presiden Trump untuk menghindari aksi militer terhadap Iran. Kekhawatiran akan pecahnya konflik regional yang lebih luas disebut turut memengaruhi keputusan Washington untuk menunda kemungkinan serangan.
Kunjungan KBS ke Washington berlangsung ketika Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk. Meski Trump telah memerintahkan penambahan signifikan pasukan AS, para pejabat Gedung Putih menegaskan belum ada keputusan final terkait opsi militer dan jalur diplomasi tetap terbuka.
Dalam agenda tersebut, KBS menggelar pertemuan di Gedung Putih dengan sejumlah pejabat senior Amerika Serikat, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, utusan Gedung Putih Steve Witkoff, serta Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine.
Sejumlah sumber mengatakan kepada Axios bahwa pembahasan dalam pertemuan itu berfokus pada kemungkinan serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Namun, KBS dilaporkan meninggalkan Washington tanpa memperoleh kejelasan mengenai strategi atau niat akhir pemerintahan Trump.
Dalam pengarahan tertutup lainnya bersama kalangan pakar dan perwakilan organisasi Yahudi, KBS dikabarkan menyatakan bahwa kegagalan untuk bertindak secara militer setelah ancaman dilontarkan selama berminggu-minggu berpotensi mendorong Iran menjadi semakin berani.
Meski demikian, KBS juga mengakui perlunya mengelola risiko eskalasi kawasan secara cermat. Secara terbuka, Arab Saudi menegaskan tetap menghormati kedaulatan Iran dan lebih memilih penyelesaian melalui jalur diplomatik. Pemerintah Saudi juga menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk serangan terhadap Iran.
Para pejabat Saudi dilaporkan menghadapi dilema strategis: di satu sisi khawatir akan dampak luas jika Amerika Serikat melancarkan serangan, namun di sisi lain tidak menginginkan Iran memperoleh keuntungan strategis apabila ancaman tersebut tidak direalisasikan. []

































