TERBARU

InternasionalNews

Meski Trump Batal Serang Iran, Kapal Induk AS Tetap Bergerak ke Timur Tengah

ORINEWS.id – Sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS) mengatakan kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, bersama kelompok tempurnya akan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan itu disampaikan pada Kamis, di tengah dinamika kebijakan militer Washington yang dinilai sulit diprediksi.

Langkah tersebut muncul hanya beberapa hari setelah Presiden Donald Trump menyatakan telah membatalkan rencana serangan baru terhadap Iran. Meski demikian, kelompok tempur USS Abraham Lincoln diketahui sudah bergerak dari kawasan Asia-Pasifik sejak pekan lalu, ketika ketegangan antara Teheran dan Washington kembali meningkat.

Menurut laporan Reuters, Jumat (23/1/2026), salah satu pejabat Amerika menyebutkan bahwa pengerahan sistem pertahanan udara tambahan ke Timur Tengah juga tengah dipertimbangkan. Amerika Serikat kerap meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut saat ketegangan regional memuncak, yang oleh sebagian pakar dinilai dapat bersifat defensif.

Namun, pengerahan aset tempur skala besar oleh militer AS bukan tanpa preseden. Pada musim panas tahun lalu, Washington mengerahkan kekuatan militer signifikan menjelang serangan Juni terhadap program nuklir Iran. Setelah itu, pemerintah AS menyatakan berhasil merahasiakan niat serangan tersebut.

Baca Juga
Arab Saudi Akui Bela Israel dari Serangan Iran
DONASI TAHAP KEDUA

Trump sebelumnya berulang kali melontarkan ancaman akan melakukan intervensi terhadap Iran menyusul laporan pembunuhan demonstran dalam gelombang protes. Namun, setelah aksi protes mereda pekan lalu, retorika Trump terhadap Iran juga dilaporkan menurun. Perhatian Presiden AS itu disebut beralih ke isu geopolitik lain, termasuk ambisinya terkait Greenland.

Pada Rabu, Trump mengatakan berharap tidak akan ada tindakan militer AS lebih lanjut di Iran. Meski begitu, ia menegaskan Washington akan bertindak jika Teheran melanjutkan program nuklirnya.

“Mereka tidak bisa melakukan [pekerjaan proyek] nuklir,” kata Trump kepada CNBC dalam wawancara di Davos, Swiss, merujuk pada serangan udara besar-besaran AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. “Jika mereka melakukannya, itu akan terjadi lagi,” ujarnya.

Sementara itu, sudah sekitar tujuh bulan sejak badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa, Badan Energi Atom Internasional, terakhir kali memverifikasi persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran. Pedoman IAEA menyebutkan bahwa proses verifikasi seharusnya dilakukan setiap bulan.

Iran juga diminta menyampaikan laporan kepada IAEA terkait kondisi lokasi-lokasi yang sebelumnya diserang Amerika Serikat serta keberadaan material nuklir yang diduga berada di sana. Material tersebut mencakup sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen, mendekati ambang senjata nuklir sekitar 90 persen. Berdasarkan standar IAEA, jumlah tersebut dinilai cukup untuk memproduksi sekitar 10 bom nuklir apabila diperkaya lebih lanjut.

Baca Juga
Peringatan Keras Hizbullah: Targetkan Tel Aviv, Dua Juta Pemukim Israel Terancam

Situasi dalam negeri Iran juga masih menjadi perhatian. Belum dapat dipastikan apakah gelombang protes akan kembali meningkat. Aksi tersebut bermula pada 28 Desember sebagai demonstrasi kecil di Pasar Besar Teheran akibat kesulitan ekonomi, sebelum dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah.

Kelompok pemantau hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat, HRANA, menyatakan telah memverifikasi 4.519 kematian terkait kerusuhan. Jumlah itu mencakup 4.251 demonstran, 197 personel keamanan, 35 korban berusia di bawah 18 tahun, serta 38 warga sipil yang diklaim bukan demonstran maupun aparat.

HRANA masih meninjau tambahan 9.049 laporan kematian lainnya. Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa jumlah korban tewas yang telah dikonfirmasi hingga Minggu lalu melebihi 5.000 orang, termasuk sekitar 500 anggota pasukan keamanan. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks