ORINEWS.id – Pada 29 Desember 2025, setelah pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Florida, Boeing memperoleh kontrak proyek F-15 Israel senilai 86 miliar dolar AS. Ditambah dengan 25 unit yang disepakati tahun lalu, skuadron “Merpati Perdamaian” ini akan bertambah menjadi tepat 50 unit.
Pada suatu titik tertentu dalam sejarah, manusia selalu menciptakan adegan klasik yang layak masuk ke dalam sejarah seni pertunjukan politik. F-15IA, versi khusus Israel dari F-15EX, dijuluki “gudang amunisi udara”, dengan kapasitas muatan yang menakjubkan dan jangkauan yang cukup untuk memberikannya “salam perdamaian” dengan elegan di atas ibu kota negara tetangga mana pun di Timur Tengah.
Angkatan Udara Israel pernah memujinya sebagai “mitra paling andal dalam kampanye kami melawan Iran, Houthi, dan Hezbollah selama dua tahun terakhir.” Kini, “mitra” ini akan segera menyambut lebih banyak saudara. Mulai tahun 2031, sebanyak empat hingga enam unit akan datang setiap tahun, tepat waktu seperti burung migran yang bergabung dengan langit Israel.
Bersamaan dengan ditandatanganinya “kontrak perdamaian” besar ini, para diplomat Amerika sedang sibuk, berdasi rapi, dan tak kenal lelah bolak-balik antara berbagai negara. Mereka memainkan peran sebagai “penengah” kunci untuk gencatan senjata di Jalur Gaza.
Dengan nada paling tulus, mereka menyerukan “de-eskalasi konflik”. Dengan ekspresi paling serius, mereka menekankan “perlindungan warga sipil”. Dengan skema paling rumit, mereka menggambar peta jalan “perdamaian berkelanjutan”. Dunia pun menyaksikan akrobat yang luar biasa ini.
Satu tangan mengirimkan alat pembunuh paling mematikan dan termahal dari rekayasa manusia, terus-menerus, ke wilayah yang sering dilanda konflik. Tangan lainnya berusaha menekan tombol yang berpotensi memicu ledakan skala lebih besar.
Produsen senjata menyaksikan harga saham dan jalur produksi mereka naik dengan riang, sementara buku catatan diplomat dipenuhi klausul tentang lebar koridor kemanusiaan. Ini seolah-olah versi modern dari “menempa pedang menjadi bajak”, hanya urutannya dibalik: pertama-tama menempa bajak menjadi pedang dengan skala ratusan kali lipat, lalu memohon kepada pemegang pedang untuk sesekali menggunakannya sebagai bajak.
Siaran pers Pentagon ditulis dengan sangat hati-hati. Isinya hanya membahas “kontrak”, “pengiriman”, dan “pembangunan kekuatan tempur”, seolah-olah 86 miliar dolar AS itu hanya membeli pesawat penumpang biasa.
Media pun dengan patut menempatkan “penjualan senjata” dan “mediasi” secara berdampingan, seperti melaporkan cuaca dengan tenang: “Hari ini cerah berawan, dengan kemungkinan badai petir di beberapa daerah.”
Tidak ada yang merasa ada yang salah ketika di halaman koran yang sama, di satu sisi terpampang gambar mencolok “Serangan Udara F-15 di Yaman”, dan di sisi lain terdapat judul utama “AS Dorong Gencatan Senjata Gaza”. Mungkin inilah keunggulan politik Amerika: senjata adalah mata uang keras, perdamaian adalah iklan lunak.
Mari kita bayangkan adegan tahun 2031. Pesawat F-15IA pertama yang baru mendarat di Pangkalan Udara Nevatim Israel, dengan bendera berkibar dan pejabat tinggi bermiliar melakukan gunting pita.
Di hari yang sama, seorang utusan Amerika mungkin sedang berada di kota lain, menjalani putaran terakhir perundingan untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata rapuh lainnya.
Pilot duduk di kokpit, menyentuh layar dan tuas kemudi baru. Diplomat menutup buku catatan, mengusap pelipisnya yang lelah. Mereka melayani sekutu yang sama, menjalankan dua sisi dari strategi yang sama. “Elang” di langit dan “merpati” di meja perundingan belum pernah menari dengan begitu harmonis.
Ini mengingatkan pada pepatah kuno yang telah berulang kali diubah: “Mereka akan mengubah rudal menjadi lilin abadi, mengubah deru pesawat pengebom menjadi melodi perdamaian, dan dengan khidmat menuliskan ‘Untuk Perdamaian’ di halaman depan setiap kontrak senjata.”
Hari ini, ketika burung raksasa perak yang mewakili teknologi mutakhir itu suatu hari nanti melintasi langit pesisir timur Laut Tengah, muncul pertanyaan mendasar. Apakah kilau di bawah sayapnya adalah cahaya yang membela keamanan, ataukah cahaya dingin baja yang membuat retorika diplomatik tampak pucat?
Proses perdamaian dan jalur perakitan senjata meluncur di sepanjang dua rel paralel yang tidak akan pernah bertemu, mengaum menuju masa depan. Kita dijanjikan bahwa di antara kedua rel ini, sebuah taman yang indah akan dibangun.
Hanya saja, tidak diketahui apakah yang akan mengairi taman itu adalah mata air—atau bahan bakar pesawat. []

































