ORINEWS.id — Libur sekolah yang semestinya menjadi waktu pulang kampung justru diisi dengan pengabdian oleh Samsul Bahri Tinendung, santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Baitul Arqam. Sebulan pascabencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Samsul memilih tetap tinggal dan bergabung sebagai relawan di Posko Muhammadiyah Aceh.
Niat Samsul untuk pulang ke Desa Gunung Pakpak, Aceh Tenggara, harus diurungkan setelah akses menuju kampung halamannya sempat terkendala akibat bencana. Rumah orang tuanya juga dilaporkan terdampak longsor pada masa awal kejadian. Di tengah kondisi tersebut, ia justru mengambil keputusan untuk terlibat langsung dalam kerja-kerja kemanusiaan.
Keputusan itu diambil setelah Samsul menerima ajakan dari Ustadzah Aini, yang akrab disapa Bunda Aini, tepat pada hari perpulangan santri. Ajakan tersebut ia terima dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab.
“Ajakan itu saya terima dengan penuh keikhlasan. Niat saya membantu sekaligus belajar berbuat untuk sesama di masa sulit seperti ini,” ujar Samsul, Jumat (2/1).
Samsul tidak sendiri. Ia bersama dua rekannya, Maula Hanifah Nuris dan Amirul, yang juga merupakan anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Ranting Baitul Arqam, mendedikasikan waktu selama kurang lebih satu bulan untuk membantu aktivitas di posko.
Meski belum diterjunkan langsung ke lokasi terdampak banjir, peran ketiganya dinilai cukup vital dalam mendukung operasional posko. Mereka terlibat dalam pengelolaan logistik, mulai dari pengepakan makanan, penyediaan air mineral, hingga penyortiran pakaian layak pakai sebelum didistribusikan ke wilayah terdampak.
“Kami membantu apa yang bisa kami lakukan di posko, memastikan seluruh bantuan siap dan layak untuk disalurkan,” tambahnya.
Selama menjadi relawan, para santri ini mendapatkan pengalaman yang tidak mereka peroleh di ruang kelas. Mereka berinteraksi langsung dengan pengurus Muhammadiyah Aceh, mempelajari dasar-dasar manajemen kebencanaan, koordinasi antarorganisasi, serta kepemimpinan dalam situasi darurat.
Keterlibatan pelajar dalam aktivitas posko pascabencana ini juga menjadi perhatian tersendiri, mengingat partisipasi dari kalangan pelajar selama masa libur sekolah masih relatif terbatas.
Bagi Samsul, satu bulan di posko menjadi wujud nyata dari nilai kepedulian sosial, tanggung jawab, dan empati yang selama ini ia pelajari di pesantren.
“Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi saya. Rasa syukur dari mereka yang dibantu dan kebersamaan antarrelawan menjadi penyemangat untuk terus menebar kebaikan ke depan,” tutupnya. []
































