ORINEWS.id – Muji Mulia resmi meraih jabatan Guru Besar Bidang Pemikiran Politik Islam Kontemporer. Capaian akademik tertinggi itu menandai perjalanan intelektual panjang yang bermula dari sebuah gampong di Lambirah, Aceh Besar, hingga ruang akademik nasional.
Muji Mulia tumbuh dalam tradisi keagamaan yang kuat di Lambirah. Lingkungan tersebut membentuk minatnya pada dunia ilmu sejak dini, bukan semata sebagai penguasaan pengetahuan, melainkan sebagai jalan pengabdian. Perjalanan itu kini bermuara pada pengukuhan sebagai Guru Besar, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Rumpun Ilmu Agama Periode II Tahun 2025.
Bagi Muji Mulia, gelar akademik bukan tujuan akhir. “Ilmu tidak berhenti pada gelar,” prinsip itu kerap ia sampaikan kepada mahasiswa. Ia menilai peran akademisi tidak hanya mengajar, tetapi juga menjaga nalar kritis agar pemikiran Islam tetap hidup dan relevan dengan perubahan zaman.
Pendidikan formalnya ditempuh berjenjang, mulai dari MIN Sungai Limpah, MTsN Jeureula, hingga MAN Sibreh Aceh Besar. Minat pada kajian keislaman membawanya melanjutkan studi ke IAIN Ar-Raniry, Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam, dan lulus pada 1998.
Jalan intelektualnya berlanjut melalui Studi Purna Ulama, program magister dengan konsentrasi Pemikiran Islam, hingga kesempatan memperdalam bahasa Arab di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada 2003. Pengalaman lintas budaya tersebut membentuk pandangannya terhadap Islam sebagai tradisi intelektual yang terbuka dan dialogis.
Pendekatan itu semakin matang ketika ia menyelesaikan program doktor dengan konsentrasi Fikih Modern pada 2017. Sejak saat itu, fokus kajiannya mengarah pada relasi Islam, negara, dan masyarakat kontemporer, khususnya dalam konteks Aceh.
Saat ini Muji Mulia mengajar di Pascasarjana UIN Ar-Raniry Program Studi Ilmu Agama Islam, sekaligus mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Di tengah tanggung jawab struktural, ia tetap menjaga ritme menulis dan mengajar.
Sejumlah karyanya antara lain Problematika Fikih Modern, Syariat Islam dan Isu-isu Kontemporer, Tata Kelola Pemerintahan Berbasis Syariah, serta Relasi Muslim dan Non-Muslim dalam Syariah Islam di Aceh. Benang merah kajiannya mengaitkan fikih siyasah, pemikiran Ibnu Khaldun, dan realitas sosial-budaya Aceh.
Di luar kampus, Muji Mulia juga aktif dalam kerja-kerja sosial dan keorganisasian. Ia pernah memimpin PMII Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, terlibat dalam Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP2) Aceh, serta kini menjabat Wakil Direktur Center for Research and Culture.
Penyerahan Surat Keputusan Menteri Agama berlangsung Senin, 15 Desember 2025, di Tangerang. Namun bagi Muji Mulia, gelar Guru Besar bukan penutup perjalanan.
“Ini amanah,” ujarnya, “untuk terus merawat pemikiran Islam yang adil, moderat, dan berpihak pada kemanusiaan.”
Dari Lambirah hingga ruang akademik nasional, kisah Muji Mulia adalah tentang kesetiaan pada ilmu dan tentang Islam yang terus berpikir. []






























