ORINEWS.id — Gula darah tinggi atau hiperglikemia kerap dipicu kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele. Padahal, kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko diabetes pada orang yang sebelumnya sehat, tetapi juga dapat memicu berbagai komplikasi serius pada penderita diabetes jika tidak ditangani dengan baik.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrin, Metabolisme, dan Diabetes, dr. I Gusti Ngurah Adhiarta, Sp.PD-KEMD, FINASIM, mengatakan peningkatan kadar gula darah umumnya terjadi akibat kombinasi pola makan, gaya hidup, serta kondisi kesehatan tertentu.
Menurut Adhiarta, konsumsi makanan dan minuman manis menjadi faktor utama penyebab lonjakan gula darah. Minuman seperti soda, es teh manis, minuman boba, hingga permen mengandung kadar gula tinggi yang cepat diserap tubuh. Selain itu, makanan cepat saji yang tinggi garam juga berisiko memengaruhi keseimbangan cairan tubuh dan berdampak pada kadar gula darah.
“Karbohidrat sederhana seperti nasi putih dan roti putih, jika dikonsumsi berlebihan dan tidak terkontrol, dapat memicu lonjakan gula darah dengan cepat,” ujar Adhiarta, dikutip dari rri, Minggu (14/12/2025).
Ia menambahkan, peningkatan gula darah tidak hanya dipengaruhi pola makan. Stres juga berperan melalui pelepasan hormon kortisol yang dapat meningkatkan kadar gula darah. Selain itu, penggunaan obat-obatan tertentu seperti steroid dan diuretik jenis tiasid, serta kondisi sakit atau infeksi, turut berkontribusi terhadap terjadinya hiperglikemia.
Adhiarta menyebutkan sejumlah gejala awal gula darah tinggi yang perlu diwaspadai, antara lain sering merasa haus, sering buang air kecil, mudah lapar, dan pandangan kabur. “Kadar gula darah yang sangat tinggi bahkan bisa menyebabkan ketosis, yang berisiko menurunkan kesadaran,” katanya.
Untuk mencegah hiperglikemia, Adhiarta menekankan pentingnya perubahan gaya hidup. Menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi karbohidrat sederhana, serta memperbanyak makanan dengan indeks glikemik rendah seperti beras merah, ubi, dan sayuran hijau menjadi langkah utama pencegahan.
Aktivitas fisik juga berperan penting dalam mengontrol kadar gula darah.
“Jalan kaki selama 30 menit, lima kali seminggu, ditambah latihan beban, dapat meningkatkan sensitivitas insulin,” ujar Adhiarta.
Selain itu, pemeriksaan gula darah secara rutin dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga diabetes, obesitas, atau hipertensi. Menurut Adhiarta, perubahan kecil namun konsisten dalam gaya hidup dapat membantu mencegah peningkatan gula darah dan menurunkan risiko diabetes di kemudian hari. []

































