ORINEWS.id – Enam warga Palestina dilaporkan tewas akibat badai musim dingin yang melanda Jalur Gaza, di tengah kerusakan masif pascaperang dan keterbatasan bantuan kemanusiaan. Hujan deras dan angin kencang menyebabkan sejumlah rumah serta tenda pengungsian runtuh pada Kamis waktu setempat, memperburuk kondisi ribuan keluarga yang masih bertahan di pengungsian.
Dikutip dari Al Mayadeen, Sabtu (13/12/2025), menyebutkan lima warga Palestina tewas di Beit Lahia, Gaza utara, setelah sebuah rumah di wilayah Bir al-Na’ja roboh diterjang badai. Di Kota Gaza, satu orang lainnya juga tewas ketika tembok bangunan runtuh menimpa tenda-tenda pengungsi. Dua anak dilaporkan terluka ketika tenda mereka ambruk di kamp Abu Jabal, wilayah al-Amoudi.
Ancaman Bertambah di Tengah Kerusakan Struktural
Koresponden lokal menyebutkan lebih dari enam rumah runtuh akibat badai. Banyak bangunan yang roboh masih dihuni keluarga yang kehilangan tempat tinggal sejak perang meletus, dan kerusakan struktural membuat ancaman serupa diperkirakan terus bertambah.
Juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Bassal, menyampaikan peringatan keras atas kondisi tersebut. “Mereka yang tidak tewas akibat bombardir Israel kini sekarat karena kedinginan dan penderitaan,” ujarnya kepada Al Mayadeen. Ia menyerukan agar warga segera mengevakuasi bangunan-bangunan yang menunjukkan tanda kelemahan.
Khan Younis dilaporkan berada dalam “keadaan bencana”, dengan ratusan ribu pengungsi tinggal di tenda-tenda yang minim perlindungan dari dingin, hujan, dan angin. Di kamp pengungsi al-Shati, seorang bayi dilaporkan meninggal akibat paparan suhu ekstrem, sehari setelah bayi lain berusia delapan bulan, Rahaf Abu Jazar, meninggal di Khan Younis karena tenda keluarganya terendam banjir.
Blokade Membatasi Bantuan Musim Dingin
Meski gencatan senjata berlaku, laporan Al Mayadeen menyebutkan wilayah timur Gaza masih menjadi target serangan dan operasi penghancuran oleh pasukan Israel, yang juga bergerak beberapa ratus meter ke dalam wilayah Gaza.
Situasi diperburuk oleh blokade yang membatasi masuknya bantuan vital. Pemerintah Gaza melaporkan rata-rata hanya 234 truk bantuan yang masuk per hari, jauh dari kesepakatan 600 truk per hari. Bantuan berupa tenda, bahan bangunan, dan peralatan drainase disebut sangat kurang untuk menghadapi musim dingin.
Sedikitnya 300.000 tenda baru dibutuhkan untuk menampung pengungsi, namun hanya sekitar 20.000 yang diizinkan masuk. Lebih dari 90 persen rumah di Gaza telah rusak atau hancur sejak Oktober 2023, memaksa warga untuk tetap tinggal di penampungan darurat yang tidak aman.
Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, menyebut kondisi itu sebagai situasi di mana warga Gaza “dibiarkan kedinginan dan kelaparan”, dan menggambarkan musim dingin yang mematikan ini sebagai “genosida kedua” yang menumpuk di atas kehancuran sebelumnya. []

































