ORINEWS.id – Satuan Tugas (Satgas) Universitas Syiah Kuala (USK) kembali memberangkatkan relawan melalui Program PKM Sahabat Senyar, memperkuat misi respons kemanusiaan di Kabupaten Pidie Jaya dan Bireuen.
Keberangkatan rombongan baru ini dilepas langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Mustanir, yang mengapresiasi kesiapan para relawan dalam melanjutkan pendampingan bagi masyarakat terdampak bencana.
Keberangkatan yang dilaksanakan pada hari ini melanjutkan rangkaian misi sebelumnya yang telah mengirim Tim Belajar Sahabat dan Tim RENA ke lokasi. Rombongan kali ini mencakup beberapa tim inti yang dipimpin oleh Ruliani, Dr. Budi Arianto, Wenny Aidina, serta dosen pendamping tambahan Zaujatul Amna, untuk memperkuat tim di Pidie Jaya.
Ketua PKM Sahabat USK, Dr. Rina Suryani Oktari, menegaskan bahwa keberangkatan ini menunjukkan konsistensi USK dalam memastikan keberlanjutan pendampingan di lapangan.
“Kami sudah mengirim beberapa tim sebelumnya, dan hari ini kita kembali menguatkan kehadiran USK untuk masyarakat. Semoga apa yang kita upayakan bersama dapat memberi manfaat nyata bagi warga terdampak,” ujarnya.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Mustanir, dalam arahannya menyampaikan bahwa komitmen USK tidak hanya berhenti pada pengiriman relawan, tetapi juga memastikan pendampingan berjalan berkelanjutan selama masa pemulihan.
“Kolaborasi ini menjadi bukti komitmen kita untuk senantiasa bersama masyarakat Aceh,” ungkapnya.
Selain rombongan dari USK, misi keberangkatan hari ini diperkuat oleh tim dari UPN Veteran Jakarta (UPNVJ) yang turut bergabung menuju Kabupaten Bireuen. Partisipasi UPNVJ menjadi wujud nyata solidaritas antar-perguruan tinggi dalam memperkuat layanan kemanusiaan.
Tim dari UPNVJ diarahkan untuk mendukung penguatan layanan kesehatan bersama para tenaga medis, yang telah bertugas sebelumnya.
Kolaborasi ini memastikan bahwa masyarakat di wilayah terdampak dan pos-pos pengungsian tetap mendapatkan layanan kesehatan dan pendampingan medis yang memadai, sekaligus menegaskan bahwa solidaritas akademik hadir melalui keterlibatan langsung pada layanan vital yang sangat dibutuhkan masyarakat selama masa pemulihan. []































