ORINEWS.id – Kabupaten Aceh Tamiang masih berjuang untuk pulih setelah diterjang banjir hebat yang melanda wilayah berjuluk bumi muda sedia itu sejak 26 November hingga 3 Desember 2025. Seluruh 12 kecamatan terdampak, dengan 209 dari 216 desa mengalami kerusakan parah.
Muhammad Hendra Vramenia, warga Aceh Tamiang sekaligus Wakil Sekretaris Karang Taruna Aceh, menyebut kondisi daerahnya paling parah dibanding kabupaten lain di Aceh.
“Saya sepakat dengan pernyataan Gubernur Mualem, bahwa Aceh Tamiang merupakan kabupaten terdampak paling parah jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Aceh,” kata Hendra kepada ORINEWS, Senin, 8 Desember 2025.
Hendra pun menyampaikan harapannya kepada Presiden Prabowo Subianto agar menetapkan banjir di Sumatera sebagai bencana nasional.
“Bapak Presiden, kalau bapak tidak menetapkan banjir Sumatera ini menjadi bencana nasional, bapak main-mainlah ke Aceh Tamiang biar bapak melihat kondisi riil yang dirasakan masyarakat Aceh Tamiang,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak fasilitas pendidikan rusak parah, ratusan rumah warga hanyut atau rusak total, dan jembatan penghubung antar kecamatan putus sehingga isolasi wilayah terjadi di sejumlah desa.
“Satu hal yang harus bapak Presiden ketahui, banjir Aceh Tamiang tidak hanya mencekam di media sosial tapi lebih mencekam keadaan riilnya,” tegas Hendra.
Hendra menutup pernyataannya dengan seruan agar Presiden hadir langsung ke wilayah terdampak.
“Bapak Presiden datanglah ke Aceh Tamiang. Kami tunggu kehadiran bapak di Aceh Tamiang biar Aceh Tamiang cepat pulih,” harapnya.
Desa Hilang Dihantam Banjir
Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak di Aceh Tamiang disebut hilang diterjang banjir bandang. Di kampung tersebut, hanya tersisa masjid dan tumpukan kayu yang beragam ukuran.

Bahkan, ketinggian banjir merendam desa nyaris setinggi atap masjid. Beberapa warga terpaksa bertahan di atas tumpukan kayu setinggi hampir sama dengan atap masjid, sementara bangunan lain di sekitar masjid nyaris tak terlihat lagi.

Muhammad Hendra Vramenia menyebut Desa Sekumur memiliki 280 rumah. Saat ini, warga sudah mengungsi ke tempat lebih tinggi dan sangat membutuhkan bantuan.
“Satu desa rumahnya hilang semua, sebanyak 280 rumah hilang terbawa banjir dan derasnya arus banjir,” ujarnya.
‘Lautan’ Kayu Muncul di Aceh Tamiang
Banjir juga menyisakan tumpukan kayu dan lumpur di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Kayu dan lumpur menutupi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin di desa tersebut.

Dilansir Antara, Minggu (7/12/2025), tumpukan kayu dan lumpur menutup akses menuju Tanjung Karang. Hanya bangunan masjid dan ponpes yang masih terlihat, sementara area sekitarnya rata dan tertutup kayu gelondongan serta lumpur. []


































