ORINEWS.id – Gelombang bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kian memukul kehidupan masyarakat. Setelah terpukul oleh banjir dan longsor, kini warga dihadapkan pada lonjakan harga kebutuhan pokok yang disebut naik hingga tiga kali lipat dariharga biasa.
Kenaikan mendadak ini membuat situasi di lapangan semakin berat, terutama bagi warga yang selama beberapa hari terakhir mengalami keterbatasan akses, pemadaman listrik, dan terhambatnya pasokan logistik.
“Hujaman kesengsaraan bertubi-tubi terus dirasakan masyarakat di tengah bencana yang sedang dihadapi. Harga sejumlah kebutuhan rumah tangga yang tiba-tiba melonjak tak wajar dari biasanya, umpama bom massal yang menjadi alat pemusnah masyarakat di Sumatera hari ini,” ujar Safrul dalam keterangannya di Banda Aceh, Rabu (3/12).
Kenaikan harga ini dipicu terganggunya distribusi dari daerah pemasok yang terdampak banjir. Selain itu, terdapat dugaan kuat adanya pihak-pihak yang ikut bermain memanfaatkan bencana di sejumlah wilayah Sumatera dengan sengaja menaikkan harga untuk memperoleh keuntungan berlipat ganda.
“Memang benar pasokan bahan pokok hari ini sedang terhambat akibat beberapa titik jalur distribusi terkendala dampak banjir dan longsor. Tapi lonjakan yang tidak wajar ini juga karena permainan mereka (mafia) yang mengambil kesempatan dengan adanya kejadian ini sebagai salah satu penyebabnya,” terang Safrul.
Di sisi lain, bencana alam yang mencekam ini juga berdampak pada perekonomian masyarakat. Inflasi tajam pada harga bahan pokok memicu jeritan masyarakat yang sudah tidak berdaya hingga semakin tidak berkutik.
“Masyarakat di Sumatera hari ini bak peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Di saat ekonomi dalam kondisi terganggu, harus dihadapkan lagi dengan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Hal ini memaksa para pelaku usaha ikut menaikkan harga jualnya,” ucapnya.
Ia juga menambahkan bahwa banyak masyarakat—terutama mahasiswa—yang terpaksa membeli nasi dari pedagang karena harga bahan dapur melambung dan listrik padam selama beberapa hari. Mereka harus lebih berhemat untuk mencukupi kebutuhan akibat kondisi ekonomi keluarga yang sedang tidak baik-baik saja.
Safrul berharap kontribusi pemerintah dalam penanganan lokasi terdampak bencana dapat segera membawa keadaan menjadi lebih baik sehingga turut menormalkan stabilitas harga pangan. Ia juga mengecam tindakan tidak terpuji dari pihak-pihak yang sengaja menjadikan momentum bencana sebagai ladang keuntungan saat masyarakat sedang terjepit. []


































