ORINEWS.id – Hujan ekstrem yang memicu banjir besar di berbagai kabupaten/kota di Aceh menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur, terutama jembatan. Berdasarkan Laporan Kondisi Kerusakan Jalan dan Jembatan Pasca Banjir Aceh 2025 yang dirilis Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh, Jumat (28/11/2025) menyebutkan sejumlah jembatan vital di berbagai daerah mengalami putus total hingga kerusakan berat.
Tercatat sebanyak 29 jembatan dari berbagai daerah mengalami kerusakan berat akibat derasnya arus sungai dan longsor yang terjadi di wilayah terdampak. Beberapa jembatan yang rusak di antaranya, Jembatan Silayakh – Aceh Tenggara dengan status putus total, kemudian Jembatan Natam – Aceh Tenggara dengan status putus. Kemudian Jembatan Salim Pipit – Aceh Tenggara status putus total. Jembatan Mbarung – Aceh Tenggara status putus. Kemudian Jembatan Pasir Putih – Gayo Lues status Putus. Jembatan Pintu Rime – Gayo Lues status Putus.
Kerusakan parah juga terjadi di wilayah pesisir dan barat selatan Aceh, Jembatan Suak Toben (Bailey STA 29+200) – Aceh Singkil, Status: Struktur jembatan bailey putus sepanjang 22 meter, kemudian jembatan Suak Sigide Tepin Tinggi – Aceh Singkil, status Jembatan patah sepanjang 7 meter kemudian Jembatan Gosong Telaga – Aceh Singkil 1 & 2 dengan status Oprit jembatan rusak.
Di Kabupaten Bireuen, banjir menghanyutkan dan merusak beberapa jembatan rangka baja. Jembatan di Teupin Reudep, Kecamatan Peusangan Selatan, dilaporkan hanyut terbawa arus. Sementara itu, jembatan rangka baja di Ule, yang berada di ruas jalan kabupaten, juga mengalami kerusakan akibat tingginya debit air.
Kerusakan serupa terjadi di Salah Sirong dan Teupin Mane, Kecamatan Juli. Pada jembatan Teupin Mane yang berada di ruas Jalan Nasional Bireuen–Takengon, bagian oprit di sisi timur putus diterjang banjir, sehingga jalur penghubung antarwilayah tersebut tidak dapat dilalui.
Banjir juga merusak dua jembatan nasional lainnya di jalur Banda Aceh–Medan, yakni Jembatan Kutablangdan Jembatan Teupin Mane. Kedua jembatan tersebut mengalami kerusakan parah, bahkan jembatan alternatif pada jalur yang sama turut putus sehingga memperparah gangguan konektivitas.
Di Aceh Tengah, jembatan pada ruas nasional Bireuen–Takengon dilaporkan mengalami oprit miring akibat gerusan banjir, menjadikan akses menuju dataran tinggi Gayo semakin terhambat.
Selain jembatan, beberapa ruas jalan provinsi juga terdampak. Di Aceh Timur, ruas Jalan Peureulak–Lokop (Bunin) tertimbun material longsor. Material tanah dan batu menutup badan jalan sehingga arus lalu lintas terganggu.
Longsor juga terjadi di ruas Jalan Gunung Kapur–Trumon, Aceh Selatan. Longsoran gunung menutupi badan jalan sepanjang 25 meter dengan ketinggian material mencapai 0,5 hingga 3 meter, tepatnya di STA 1+500 Desa Panton Bili, Kecamatan Trumon.
Di Aceh Utara, Jembatan Paya Dua, Kecamatan Banda Baro, mengalami oprit tergerus banjir. Kondisi tersebut mengancam kelancaran transportasi pada ruas Jalan Krueng Geukueh–Batas Bener Meriah.
Sementara itu, di Kabupaten Nagan Raya, ruas Jalan Kuala Tuha–Lamie mengalami kerusakan badan jalan sepanjang 200–300 meter di Desa Pante Pangen, Kecamatan Tripa Makmur akibat banjir yang merendam kawasan tersebut.
Kerusakan juga dilaporkan pada ruas Jalan Simpang Siompin–Keras–Perbatasan Sumut di Subulussalam. Badan jalan amblas akibat longsor, membuat akses menuju perbatasan Sumatera Utara terputus.
Putusnya jembatan-jembatan ini berdampak langsung pada terputusnya jalur penghubung antar kecamatan dan kabupaten. Beberapa wilayah kini sulit dijangkau kendaraan logistik maupun tim bantuan.
Jembatan-jembatan yang putus mayoritas merupakan penghubung utama menuju Kecamatan dalam Kabupaten Aceh Tenggara. Batas Gayo Lues – Kutacane – Sumut. Ruas Jalan Lipat Kajang – Telaga Bakti (Aceh Singkil) dan Akses Pulo Raya – Trumon (batas Aceh Singkil), Medan-Banda Aceh.
Situasi ini membuat distribusi logistik, evakuasi, dan suplai BBM menjadi sangat terganggu. PUPR Aceh menyebut pendataan masih berlangsung karena beberapa lokasi belum dapat dijangkau akibat arus sungai yang masih tinggi dan jalur darat tertutup lumpur maupun kayu gelondongan.
Dengan banyaknya jembatan putus, pemerintah daerah kini fokus pada Pembukaan akses darurat, Pemasangan jembatan bailey darurat, Penanganan titik rawan banjir, Normalisasi aliran sungai yang meluap
Hingga kini, tim PUPR Aceh dan sejumlah pihak terkait terus melakukan pendataan lanjutan serta upaya penanganan darurat. Namun, cuaca yang masih tidak menentu menjadi tantangan utama dalam percepatan pembukaan akses dan perbaikan infrastruktur yang rusak. [source:rri]

































