ORINEWS.id – Israel mengembalikan 15 jenazah warga Palestina ke Gaza melalui Komite Palang Merah Internasional, kata Kementerian Kesehatan Palestina pada Rabu (27/11/2025). Dengan tambahan ini, jumlah jenazah yang diterima menjadi 345. Namun, puluhan jenazah lainnya masih ditahan oleh Israel, yang menurut Kementerian melanggar perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 11 Oktober.
Dikutip dari Al Mayadeen, Kamis (27/11/2025), dari 345 jenazah tersebut, hanya 99 yang berhasil diidentifikasi sejauh ini. Tim medis terus menjalankan protokol pemeriksaan, pendokumentasian, dan persiapan jenazah agar dapat dikembalikan kepada keluarga. Semua prosedur dilakukan sesuai standar forensik dan kemanusiaan. Pemeriksaan forensik terhadap jenazah sebelumnya menunjukkan tanda-tanda penganiayaan, penggunaan alat pengekang, dan penanganan brutal. Kementerian menyerukan organisasi hak asasi manusia internasional untuk menyelidiki pelanggaran ini dan menuntut pertanggungjawaban Israel.
Studi: Harapan Hidup Gaza Turun Hampir Setengahnya
Sebuah studi terbaru dari Institut Max Planck untuk Penelitian Demografi (MPIDR) dan Pusat Studi Demografi (CED) mengungkap bahwa perang di Gaza menurunkan harapan hidup warga hampir separuhnya. Diperkirakan lebih dari 78.000 warga tewas antara 7 Oktober 2023 hingga 31 Desember 2024, dan korban tewas kini kemungkinan telah melebihi 100.000 orang.
Penelitian ini memanfaatkan data publik dari Kementerian Kesehatan Gaza, B’Tselem, OCHA, UN-IGME, dan Biro Pusat Statistik Palestina. Tim peneliti menggunakan pendekatan pseudo-Bayesian untuk memperhitungkan kurangnya pelaporan kematian serta data yang tidak terpilah menurut usia dan jenis kelamin.
Ana C. Gómez-Ugarte, peneliti utama, menyatakan, “Akibat angka kematian yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, angka harapan hidup di Gaza turun 44% pada 2023 dan 47% pada 2024, setara hilangnya lebih dari 34 tahun harapan hidup pada 2023 dan 36 tahun pada 2024.”
Krisis Kesehatan dan Infrastruktur
Lebih dari 100.000 orang di Gaza masih terluka, dengan sekitar 17.000 memerlukan evakuasi mendesak karena kolapsnya layanan medis. Menurut Duta Besar Palestina untuk Wina, Salah Abdel Shafi, hanya delapan dari 36 rumah sakit yang berfungsi sebagian, sedangkan sisanya hancur.
Shafi menambahkan, “Sekitar 80% wilayah Jalur Gaza telah hancur, lebih dari satu juta orang tinggal di tenda atau di tempat terbuka, dengan pasokan medis dan obat-obatan yang sangat terbatas.” []



































