ORINEWS.id – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Banda Aceh (BPOM Aceh) turut hadir berpartisipasi sebagai narasumber pada acara puncak peringatan World Pharmacists Day (WPD) 2025 yang berlangsung di Desa Aneuk Laot, Kota Sabang, Sabtu, 15 November 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara edukasi kesehatan yang diselenggarakan serentak oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) di seluruh kabupaten/kota di Aceh sesuai undangan Pengurus Daerah IAI Aceh Nomor B1-096/PDIAI/Prov.Aceh/X/2025.
Acara puncak ini berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Sejak pagi, ratusan peserta dari berbagai kalangan-mulai dari ibu rumah tangga, pelajar, lansia hingga anak-anak mengikuti beragam kegiatan seperti senam sehat, layanan cek kesehatan gratis, konseling obat, serta lomba mewarnai bertema kesehatan.
Kegiatan diawali dengan laporan Ketua IAI Aceh, Tedy Kurniawan Bakri, yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas profesi dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. “Hari Apoteker Sedunia bukan hanya seremonial, tetapi wujud komitmen apoteker untuk hadir memberikan edukasi yang benar dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ketua Umum IAI Indonesia, Noffendri, turut menyampaikan sambutan yang menyoroti tantangan kesehatan global, seperti penyalahgunaan obat dan meningkatnya resistensi antibiotik. “Peran apoteker sangat strategis dalam memastikan penggunaan obat yang tepat. Edukasi adalah pilar utama untuk mencegah risiko penyalahgunaan obat dan resistensi antibiotik,” ungkapnya.
Sambutan berikutnya disampaikan Wakil Wali Kota Sabang, Suradji Junus, yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Ia menyampaikan apresiasi atas sinergi IAI dan BPOM dalam memberikan edukasi langsung kepada masyarakat. “Pemahaman yang benar tentang obat, pangan aman, dan penggunaan antibiotik yang bijak sangat penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Sabang,” tuturnya.
Pada sesi inti, BPOM melalui narasumber Ketua Tim Komunikasi, Informasi, dan Edukasi BPOM Aceh,Desi Ariyanti Ningsih, menyampaikan materi tentang prinsip Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang (DAGUSIBU) obat secara benar serta penjelasan mengenai ancaman resistensi antibiotik yang semakin mengkhawatirkan. “Obat harus dikelola dengan benar. Terapkan DAGUSIBU dalam kehidupan sehari-hari dan jangan pernah menggunakan antibiotik tanpa resep dokter,” tegas Desi.
Sesi edukasi mendapat respons positif dari peserta. Masyarakat aktif bertanya mengenai cara memilih obat yang aman, membedakan obat legal dan ilegal, hingga penyimpanan obat di rumah. Anak-anak juga antusias mengikuti lomba mewarnai, sementara orang tua memanfaatkan layanan konseling obat dan cek kesehatan gratis.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama antara IAI, BPOM, dan Pemerintah Kota Sabang untuk terus memperkuat edukasi publik, memperluas akses informasi obat dan pangan aman, serta meningkatkan peran apoteker dalam pelayanan kesehatan masyarakat. []

































