ORINEWS.id – Bahkan dinosaurus pun memiliki nenek moyang. Salah satu ciri yang diwarisi beberapa dari mereka (karnivor) dari apa yang disebut proto-dinosaurus ini adalah bipedalisme.
Dinosaurus awal berjalan dengan dua kaki belakang, alih-alih keempat kaki, seperti sauropoda. Ciri ini berkaitan dengan cara ekor mereka berevolusi, jelas penulis utama dan peneliti pascadoktoral Scott Persons.
“Ekor proto-dinosaurus memiliki otot yang besar dan bertenaga,” ujarnya. “Massa otot ini memberikan kekuatan dan daya yang dibutuhkan dinosaurus purba untuk berdiri dan bergerak dengan kedua kaki belakangnya. Kami melihat efek serupa pada banyak kadal modern yang berdiri dan berlari secara bipedal.”
Studi tersebut bertajuk “The functional origin of dinosaur bipedalism: Cumulative evidence from bipedally inclined reptiles and disinclined mammals”.
Makalah ini bertentangan dengan teori yang menyatakan bahwa proto-dinosaurus purba berdiri dengan dua kaki untuk membebaskan “tangan” untuk berburu.
Persons dan rekannya mengatakan bahwa teori-teori tersebut tidak menjelaskan mengapa beberapa kelompok dinosaurus herbivora mempertahankan bipedalisme. Sebaliknya, mereka percaya bahwa proto-dinosaurus berevolusi seiring waktu untuk berlari lebih cepat dan menempuh jarak yang lebih jauh.
Spesialisasi ini tercermin dalam perubahan anatomi. Seperti tungkai belakang yang lebih panjang untuk memungkinkan kecepatan berjalan yang lebih tinggi. Serta tungkai depan yang lebih kecil untuk mengurangi berat badan secara keseluruhan dan membantu meningkatkan keseimbangan.
Perubahan ini menjadi cukup signifikan pada beberapa famili proto-dinosaurus sehingga mereka sama sekali tidak lagi berjalan dengan kaki berkaki empat.
Mamalia juga memiliki kaki empat, mengapa tidak berjalan dengan dua kaki? Mamalia awalnya beradaptasi untuk menggali dan bersembunyi dari dinosaurus yang jauh lebih besar dan lebih kuat. Jadi, mamalia tidak perlu bergerak cepat.
Mereka juga membutuhkan tungkai depan yang kuat (dan berat) untuk menggali. Memiliki ekor yang besar atau punggung yang berotot justru menjadi kerugian bagi para penggali. Alhasil, mamalia kehilangan otot kaki berbasis ekor yang besar dan sebagian besar tetap berkaki empat.
“Dengan menelusuri catatan fosil, kita dapat melacak kapan nenek moyang proto-mamalia benar-benar kehilangan otot-otot tersebut. Tampaknya hal itu terjadi pada periode Permian, lebih dari 252 juta tahun yang lalu,” kata Persons.
Memiliki ekor yang panjang juga memperpendek jarak yang harus dijangkau predator untuk menangkap Anda. Itulah sebabnya hewan penggali modern cenderung memiliki ekor yang sangat pendek. Bayangkan kelinci, luak, dan tikus mondok.
Pada akhirnya, menggali menyelamatkan mamalia dari kepunahan bersama dinosaurus di akhir Zaman Permian. Namun, ketika mamalia merangkak keluar dan beberapa berevolusi menjadi predator puncak, mereka tidak memiliki otot ekor yang memungkinkan untuk berjalan bipedal.
Dua kaki atau empat kaki?
Dinosaurus paling awal semuanya bipedal. Hal ini, dan fakta bahwa mereka berjalan dengan jinjit dan langkah yang relatif panjang, memungkinkannya untuk bergerak lebih cepat dan lebih jauh tanpa henti.
Sebaliknya, kadal dan buaya kesulitan bernapas dan berlari secara bersamaan karena tubuh mereka bergelombang dari sisi ke sisi. Hal ini berarti udara harus dialirkan di antara paru-paru mereka.
Jadi, disimpulkan bahwa dinosaurus bipedal memiliki stamina yang lebih tinggi. Dinosaurus bipedal dapat berlari lebih lama daripada kebanyakan reptil masa kini.
Sementara dinosaurus karnivor (teropoda) tetap bipedal sepanjang evolusinya. Tungkai depannya yang lebih kecil digunakan mencengkeram seperti yang dicontohkan oleh T. rex.
Herbivor semi-quadrupedal dan quadrupedal mulai muncul pada zaman Jurassic Awal. Hal ini menyebabkan kebingungan. Misalnya, prosauropoda pemakan tumbuhan awal, Plateosaurus, secara tradisional digambarkan berkaki empat.
Namun studi anatomi terbaru pada tungkai depannya yang menunjukkan bahwa berjalan dengan empat kaki mustahil. Pasalnya, telapak “tangannya” tidak dapat berputar cukup jauh untuk menghadap tanah.
Salah satu penjelasan mengapa dinosaurus berjalan dengan kaki empat adalah berkaitan dengan postur. Mereka memiliki perut “fermentasi” besar yang mereka butuhkan untuk mencerna bahan tanaman yang keras. Perut ini terletak di depan panggul dinosaurus. Dan akan menyebabkan masalah keseimbangan serius jika mereka terus berjalan dengan dua kaki.
Berat yang luar biasa
Dalam kasus dinosaurus berzirah seperti Stegosaurus, lempeng dan duri mereka yang berat menuntut postur berkaki empat. Tujuannya adalah untuk menopang berat zirah ini. Dan
Sedangkan ceratopsia seperti Triceratops memiliki kepala terbesar di antara semua hewan darat. Tanduk mereka yang besar dan jumbai pelindung bertulang mustahil untuk ditopang dengan dua kaki tanpa terjatuh. Jadi, dinosaurus ini mengembangkan postur berkaki empat pada zaman Kapur Akhir.
Karena tungkai depan yang kecil, karnivora bipedal terbesar seperti T. rex pernah diperkirakan mengalami kesulitan untuk berdiri jika terjatuh. Perkiraan itu tidak benar.
Ekor mereka yang panjang dan tebal memberi mereka keseimbangan yang sangat baik. Desain yang hampir memiliki tiga tungkai ini membuat mereka sangat stabil. Bahkan jauh lebih stabil daripada manusia, yang harus terus-menerus bereaksi terhadap rangsangan sensorik agar tetap tegak. [source:nationalgeographic]



































